Pasar Desa Jepang Hasilkan PAD Miliaran Rupiah

BETANEWS.ID, KUDUS – Pasar Desa Jepang adalah satu-satunya pasar desa yang ada di Kudus. Pendapatan Asli Desa (PAD) yang dihasilkan pun juga tinggi, hingga menyentuh angka miliaran rupiah.

Kepala Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kudus, Indarto mengatakan, setelah perbaikan/pembangunan pasar pada 2021 lalu itu kini sudah mendapatkan PAD sebesar Rp 1,1 miliar.

Baca Juga: CLBK dan Medsos, Biang Keladi Ratusan Istri di Kudus Gugat Cerai Suami

-Advertisement-

Pasar desa yang menelan anggaran Rp 3,7 miliar itu, disebut sangat bermanfaat bagi masyarakat, lantaran PAD itu guna untuk kegiatan kemasyarakatan.

“Pasca pembangunan, pasar mulai beroperasi lagi sejak Desember 2021. Untuk jumlah total PAD dua tahun terakhir yaitu 2021 dan 2022 yang sudah terekap sekitar Rp 1,1 miliar,” kata Indarto saat ditemui di ruangan kerjanya, Senin (10/7/2023).

PAD tersebut nantinya berfungsi untuk melengkapi kebutuhan sarpras jalan, kegiatan sosial, bantuan pemulasaran jenazah bagi warga yang membutuhkan, beasiswa pondok tahfid, bantuan pengembangan UMKM warga, dan untuk membantu disabilitas.

Pihaknya menargetkan, dalam setahun PAD dari pengelolaan pasar yang kini belum 100 persen jadi itu, sebanyak Rp 500 juta hingga Rp 600 juta pertahunnya. Target itu, selama dua tahun terakhir ini menurutnya sudah terpenuhi.

“Jadi total PAD ini dari retribusi parkir, retribusi sampah, retribusi keamanan, serta dari uang sewa ratusan pendagang yang menghuni kios ataupun los,” jelasnya.

Pasar desa itu dibangun dilahan seluas 6000 meter persegi itu menampung 40 kios dan 300 los yang disewakan untuk toko kelontong, pedagang sayur, sembako, kuliner, dan lain sebagainya.

“Untuk harga sewa mulai dari kios berukuran 3×4 meter Rp 1,7 juta pertahun dan kios 3×6 Rp2,5 juta pertahun. Sedangkan untuk los, harga sewa per meter perseginya Rp 125 ribu pertahun,” tuturnya.

Lebih lanjut Indarto merincikan, selain dari sewa tempat, PAD juga datang dari retribusi sampah dan keamanan. Untuk kios mulai dari Rp 2,5-3 ribu per harinya. Sedangkan untuk retribusi sampah dan keamanan Rp 500 per meter perseginya setiap hari.

Untuk tahun ini hingga bulan Juni 2023, PAD yang dihasilkan dari pengelolaan pasar tersebut baru sekitar Rp 90 juta. PAD itu baru dihasilkan lewat parkir, serta retribusi sampah dan keamanan.

“Kalau untuk sewa kios maupun los itu nanti akhir tahun biasanya,” ujarnya.

Baca Juga: Tiap Tahun 8 Ribu Anak di Indonesia Terlahir dengan Bibir Sumbing

Diketahui, Pasar Desa Jepang hingga saat ini belum 100 persen jadi. Masih ada pembangunan sarana prasarana (sarpras) seperti pembangunan halaman parkir, pengadaan keamanan cctv, pembangunan pagar, dan lain sebagainya.

“Rencana untuk pembangunan sarpras nanti, kami baru mengajukan Bantuan Keuangan (Bankeu) ke pihak Pemerintahan Kabupaten (Pemkab) Kudus. Semoga ini nantinya disetujui,” harapnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER