31 C
Kudus
Rabu, Februari 18, 2026

Hebat! Pria di Kudus Ini Serahkan Semua Keuntungan Jual Seragam Sekolah untuk Ibunya

BETANEWS.ID, KUDUS – Rifqi Kholil tampak kewalahan melayani pembeli seragam sekolah di Toko Annada, Desa Karangmalang RT 5 RW 8, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus. Di momen kenaikan kelas seperti saat ini, tokonya itu memang tak pernah sepi pembeli. Tak sendiri, siang itu Rifqi dibantu ibu dan istrinya.

Di sela-sela melayani pembeli, ia bersedia berbagi kisah usaha konfeksi warisan orang tuanya itu. Rifqi mengatakan, usaha konveksi yang bernama Annada itu berdiri sejak 1984 dan fokus pada seragam sekolah. Rifqi kemudian melanjutkan usaha tersebut setelah ayahnya meninggal pada 2018.

“Jadi 2017 itu konveksi mulai sudah tidak ada yang ngurusi karena ayah pada saat itu fokus menjadi pendamping jemaah haji. Mau tidak mau saya pun harus mengurusi semua urusan dalam usaha itu dan mulai belajar,” beber Rifqi kepada Betanews.id, Selasa (11/7/2023).

-Advertisement-

Baca juga: Bawahan Seragam Sekolah SD-SMA di Toko Annada Kudus Harganya Mulai Rp30 Ribu

Tepat satu tahun sembari mempelajari usaha, kata Rifqi, ayahnya meninggal dunia dan usaha konveksi yang memproduksi seragam itu kemudian dilanjutkannya. Menariknya, pria berusia 27 tahun itu tidak mau menerima pendapatan dari konveksi tersebut. Menurutnya, hasil penjualan seragam itu diberikan kepada ibunya untuk kebutuhan hidup.

“Konveksi ini hasilnya untuk kebutuhan ibu. Kalau saya mempunyai sampingan dekorasi dan jual ikan koi,” tutur pria lulusan MA Qudsiyyah Kudus tersebut.

Ia menuturkan, alasannya mau meneruskan usaha konveksi itu karena sudah berjalan selama puluhan tahun, jadi sayang jika dihentikan. Apalagi pendapatan itu bisa digunakan untuk kebutuhan ibunya.

“Keduanya karena usaha sudah berjalan dan pemasaran juga sudah berjalan dengan baik. Jadi sayang kalau berhenti di tengah jalan. Kemudian karena usaha konveksi seragam ini juga minim risiko, kalau memang tahun ini tidak laku, bisa dijual dan laku pada tahun berikutnya. Sehingga konveksi ini tidak seperti gamis yang rawan risiko rugi,” tuturnya.

Baca juga: Panen! Toko Seragam Sekolah di Pasar Kliwon Bisa Dapat Omzet Rp80 Juta Sehari

Ia menyebut, permintaan seragam sekolah itu ramainya sampai h+3 bulan setelah kenaikan kelas. Hingga saat ini, pihaknya masih tetap produksi dengan mempekerjakan 13 orang, 9 orang menjahit, 1 orang karyawan harian, 2 orang khusus packing, 1 orang lainya sebagai pemotong kain dan pola.

“Jadi untuk produksinya itu dikerjakan di rumah masing-masing karyawan. Hingga lima alat jahit yang ada di sini tidak terpakai lagi. Karena karyawan jahit itu lebih nyaman dikerjakan di rumahnya masing-masing,” imbuhnya.

Editor: Ahmad Muhlisin

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER