BETANEWS.ID, KUDUS – Kenaikan harga beras yang terjadi sejak dua bulan lalu membuat masyarakat mengurangi pembelian. Penurunan konsumsi ini membuat beberapa toko yang menjual beras di Pasar Baru Kudus terlihat sepi. Bahkan beberapa pedagang tak berani menyetok banyak barang karena penjualan menurun.
Salah satu pedagang, Sriyati, mengakui, semenjak harga beras merangkak naik, tokonya semakin sepi pembeli. Bahkan menurutnya, penjualan mengalami penurunan hingga 50 persen.
“Sepi mas saat harga beras naik tinggi seperti sekarang. Kadang sehari hanya bisa menjual 25 kilogram atau satu karung beras, kadang ya 50 kilogram,” beber Sriyati kepada Betanews.id, Jumat (10/2/2023).
Baca juga: Ganjar Tak Temukan Minyakita saat Keliling ke Sejumlah Pasar di Semarang
Ia menjelaskan, beras jenis biasa seperti Raja Lele memiliki katagori golongan a, b, dan c yang harganya berbeda-beda. Menurutnya, ada harga Rp10.500, Rp11.000, dan Rp 11.500.
Hal yang sama juga diungkap pedagang lain, yaitu Nurul Latifah. Dengan turunnya permintaan itu, dia tidak berani mengambil atau bahkan menyetok barang yang banyak karena saat ini sedang sepi.
Baca juga: Naiknya Harga Beras dan Minyak Goreng Jadi Penyebab Inflasi di Jateng
Bahkan dirinya sampai memasarkannya secara online agar barang yang tersedia cepat laku. Ia menjelaskan, kenaikan harga beras tersebut dipicu karena kelangkaan barang. Hal itu disebabkan banyak petani padi yang gagal panen lantaran area persawahan yang harusnya panen malah terendam banjir.
“Beras hanya menyimpan sedikit, karena kan untuk perputaran juga. Saat ini ya kurang lebih ada 1,5 ton beras saja. Kalau sehari semenjak beras mahal ini jadi sepi, kalau sepi sehari jual 2 kuintal dan 5-6 kuintal beras jika ramai,” terangnya.
Editor: Ahmad Muhlisin

