BETANEWS.ID, CILACAP – Banjir yang merendam 15 kecamatan di Kabupaten Cilacap mulai surut. Daerah yang sudah durut itu adalah Kecamatan Maos, Gandrungamangu, Kedungreja, Kawunganten, Jeruklegi, Kesugihan, Majenang, dan Sampang.
Selasa (11/10/2022) ini, banjir masih menggenangi beberapa kecamatan yang tersebar di beberapa desa yaitu Desa Sidareja, Kecamatan Sidareja; Desa Mujur Lor, Gentasari, dan Mujur, Kedawung, dan Sikampuh, Kecamatan Kroya; Desa Cisumur, Kecamatan Gandrungamangu; Desa Rawajaya dan Binangun, Kecamatan Bantarsari; Desa Panikel, Kecamatan Kampunglaut; Desa Adiraja, Kecamatan Adipala; dan Kecamatan Patimuan. Rata-rata ketinggian banjir berkisar 30-50 centimeter.
Menurut Kepala Pelaksana Harian (BPBD) Jateng, Bergas C Penanggungan, penyebab kejadian adalah hujan intensitas tinggi dengan durasi cukup lama dari Jumat-Sabtu 7-8 Oktober 2022 mulai pukul 13.00 WIB, pendangkalan sungai di Kabupaten Cilacap, penebangan lahan Perhutani mengakibatkan daya serap tanah kurang, hingga perubahan tata guna lahan di hulu dan perubahan tata ruang di hilir.
Baca juga: Baznas Jateng Siapkan Dana Bantuan Penanganan Bencana Sebesar 15 Persen
“Banjir Cilacap saat ini, penanganannya di beberapa tempat cukup luas, memang cuaca ekstrem. Masyarakat tetap dievakuasi, tetap diamankan ke titik aman,” kata Bergas dihubungi melalui sambungan telepon, Selasa (11/10/2022).
Utamanya, kata dia, kelompok rentan, ibu, dan anak telah evakuasi lebih dulu. Sedangkan, laki-laki yang dewasa diminta ikut menjaga lingkungan masing-masing. Dengan demikian, secara garis besar, banjir Cilacap sudah tertangani.
“Alhamdulillah, di Cilacap sudah tertangani. Termasuk logistiknya untuk pengungsi dari Dinas Sosial sudah didorong untuk disampaikan ke titik pengungsian,” katanya.
Baca juga: DAS Juwana Masuk Program Prioritas Nasional untuk Pemetaan Risiko Bencana
Namun kecenderungannya, masyarakat lebih memilih bertahan di rumah karena dianggap ini sesuatu yang biasa. Meski demikian, BPBD terus melakukan pendampingan dalam penanganan bencana ini.
Sejumlah titik pengungsian itu adalah masjid, hingga Gedung MTs. Ketika pagi saat banjir surut, terang Bergas, pengungsi kembali ke rumah. Namun bila malam hari tiba dan banjir belum surut, pengungsi kembali ke tempat pengungsian.
“Sudah ada dapur umum yang disediakan pemerintah setempat, warga setempat membantu untuk masak. Termasuk relawan juga membantu,” tandas Bergas.
Editor: Ahmad Muhlisin

