31 C
Kudus
Rabu, Januari 28, 2026

Sampah Plastik Ancam Ekosistem Ikan di Laut Semarang

BETANEWS.ID, SEMARANG – Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jawa Tengah menyebut, sampah di Kota Semarang jumlahnya meningkat ketika musim hujan. Salah satu sebabnya adalah, masih banyak warga yang membuang sampah di sungai.

Ketua Walhi Jateng Fahmi Bastian mengatakan, berdasarkan data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, tahun lalu sampah Kota Semarang meningkat 10 persen ketika musim hujan.

“Satu hari saja Kota Semarang menghasilkan sekitar 1.200 ton sampah. Nah jumlah itu meningkat 10 persen,” jelasnya, Senin (8/9/2021).

-Advertisement-

Baca juga : Walhi: ‘Kesehatan Warga Terancam Akibat Sampah Plastik di Tambakrejo’

Dia memprediksi, jika sampah-sampah tersebut tak ditangani dengan baik, bakal berdampak ke ekosistem yang ada di laut. Hal itu disebabkan, banyak sampah yang dibuang di sungai akhirnya berhenti di muara laut.

“Yang paling berbahaya adalah ketika bahan mikro plastik dimakan oleh hewan-hewan yang memang berada di laut, termasuk ikan. Itu juga, nantinya jika dikonsumsi manusia juga akan berbahaya,” ujarnya.

Di Kampung Laut Tambakrejo, Kota Semarang misalnya, kalau hujan bak lautan plastik. Warga setempat tak tahu pasti dari mana asal sampah plastik yang berada di kawasan tersebut. Yang pasti, sampah plastik tersebut membuat warga gusar karena mengganggu aktivitas warga yang mayoritas bekerja sebagai nelayan.

Salah satu nelayan, Marzuki mengatakan, akibat sampah plastik tersebut membuat banyak nelayan yang merugi. Banyak jaring nelayan jebol yang disebabkan sampah plastik yang ikut tersangkut.

“Selain membuat jaring nelayan jebol, sampah plastik tersebut membuat perahu nelayan pada macet karena menyangkut di baling-baling perahu,” jelasnya.

Dirinya merasa kebingungan dengan fenomena sampah yang ada di sepanjang bibir sungai hingga laut itu. Pasalnya, jika memang sampah warga Tambakrejo tak mungkin jika jumlahnya sebanyak itu.

“Kalau dari warga tak mungkin sebanyak itu, apalagi setiap satu hari satu kali pasti sampah di permukiman warga dibersihkan,” ujarnya.

Tak jarang ketika pergi melaut, dia melihat banyak ikan yang terjebak di sampah plastik. Tak terhitung ikan yang tak sengaja masuk ke plastik hingga tak bisa keluar. Jika dibiarkan ikan-ikan tersebut bakal mati di dalam plastik.

“Kalau ikan makan plastik tidak, namun kalau ikan masuk plastik sering. Jadi seperti ikan bandeng itu sering masuk-masuk ke pastik dan kejebak. Itu kalau tak tertolong bisa mati di dalam plastik itu,” katanya.

Pembudidaya kerang Tambakrejo, Selamet mengatakan, sampah plastik yang ada di Tambakrejo sangat mengganggu pembibitan kerang miliknya dan hasil tangkapan kerang oleh para petani kerang.

“Bisa dibilang sangat berpengaruh pada tangakapan kita,” jelasnya.

Biasanya, lanjut Selamet, banyak sampah-sampah yang menempel di rumah kerang yang terbuat dari bambu. Hal itu membuat pembibitan kerang miliknya kualitasnya jadi berkurang.

Baca juga : Walhi Pamerkan Foto-Foto Banjir dan Rob di Kota Semarang Saat Peringati Hari Bumi

“Hasil tangkapan sangat berpangaruh, saya kan mempunyai terumbu kerang dan sampah-sampah itu sangat mengganggu. Jadinya bibitnya dulu bagus sekarang jelek,” ujarnya.

Selain itu, sampah plastik banyak yang merusak jaring dan perahu nelayan. Dia menyebut beberapa jaring nelayan jebol lantaran tersangkut sampah.

“Itukan kendalanya yang kebanyakan bambu untuk rumah kerang, karena banyak sampah plastik yang menempel,” katanya.

Editor : Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER