31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaBudayaRefleksi Kebangkitan ala...

Refleksi Kebangkitan ala Forum Kalen, dari Filsaf, TS Eliot Hingga Guru Galak

BETANEWS.ID, KUDUS – Lantunan lagu John Lennon berjudul “Imagine” menggema di Sidji-Pukwe, belakang gedung DPRD Kudus, Kamis (20/5/2021). Lagu yang dibawakan Muna-Muni Band ini dilantunkan untuk menyambut para pegiat diskusi di Forum Kamis Legen (Kalen), yang akan merayakan Hari Kebangkitan Nasional.

Satu demi satu para pegiat diskusi Forum Kalen yang dijadwalkan hadir, datang dan duduk di kursi yang telah disiapkan. Sejumlah hidangan sudah tersaji di meja untuk menjamu peserta diskusi, di antaranya sate srepeh khas Rembang, Lunpia Semarang, dan tentu menu-menu kopi khas sajian Sidji Coffee dan hidangan lain dari Warung Pukwe.

Hadir dalam forum antara lain, Moh Sugiharyadi, Direktur Akademi Komunitas Semen Indonesia (AKSI) Rembang, Abdul Chamim, Founder Gentong Miring Rembang, Edy Supratno, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Budaya Islam (STIBI) Syekh Jangkung Pati, Valerie Yudistira, Owner Sidji Coffee.

- Ads Banner -

Hadir pula, Fajar Kartika, dosen di Univeristas Muria Kudus (UMK), Fauzan Hidayatullah, dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang, Suwoko, Pemimpin Redaksi Beta News, Martinus Basuki Sugita, mantan jurnalis yang kini menjadi guru matematika di SMP Kanisius Kudus, dan Djoko Herryanto, penasihat Forum Kalen.

Sugiharyadi memberi sambutan dalam refleksi Hari Kebangkitan Nasional yang digelar Fotum Kalen. Foto: Ahmad Rosyidi

Waktu menunjukkan pukul 11.30 WIB, sebagaimana dijadwalkan, waktunya acara dimulai. Personel Muna-Muni turun dari panggung, dan Suwoko maju ke depan untuk membuka acara. Dia menjelaskan, acara ini digelar di hari Kamis Legi, sebagaimana nama forum diskusi Kamis Legen.

“Acara ini sebagai sarana sliturahmi, sekaligus merayakan Hari Kebangkitan Nasional, dan Halal bi Halal,” ucap Suwoko, yang kemudian mempersilakan Sugiharyadi memberi sambutan sekaligus memantik diskusi.

Dalam sambutannya, Sugi, sapaan akrab Moh Sugiharyadi mengatakan, pada momentum Hari Kebangkitan ini diperlukan pengenalan problematika sebagai jawaban terhadap permasalahan yang terjadi di Indonesia. Tujuan dari jawaban tersetut, tidak lain untuk memajukan peradaban Nusantara.

“Forum Kalen masih sangat diperlukan untuk memantik sikap kritis terhadap permasalahan yang ada. Forum Kalen menjadi ruang berpikir kritis untuk menemukan jalan kemajuan Nusantara,” tutur penulis yang telah menghasilkan 12 buku.

Abdul Chamim, Founder Gentong Miring Rembang. Foto: Ahmad Rosyidi

Setelah memeberikan sambutannya, acara kemudian dilanjutkan dengan masing-masing peserta diskusi mengutarakan pendapat dan refleksi terhadap Hari Kebangkitan. Abdul Chamim, menjadi yang pertama mengutarakan refleksi.

Chamim mengatakan, dirinya membayangkan bagaimana jika tidak ada negara dan agama, sama seperti lirik lagu John Lennon yang dibawakan Muna-Muni di awal acara, menurutnya, betapa damai dunia.

Senada dengan Chamim, Fauzan Hidayatullah menyatakan, di era media sosial saat ini banyak yang merasa pintar dan mendadak jadi ahli agama. Agama sering kali menjadi persoalan, karena mempertentangkan perbedaan. Banyak dari mereka yang tak memiliki sanad keilmuan dan hanya berpendapat merujuk sumber-sumber dari Google.

Fauzan Hidyatullah. Foto: Ahmad Rosyidi

“Mengutip kalimat yang diucapkan Karl Marx, ayat-ayat agama yang tidak memiliki sumber sanad yang jelas akhirnya akan menjadi candu yang memabukkan. Oleh karena itu, penting bagi pendidikan di Indonesia untuk mengajarkan filsafat sejak dini, agar generasi mendatang tidak menjadi robot, dan mereka bisa merdeka menjadi dirinya sendiri,” katanya.

Sementara itu, Basuki Sugita, peserta diskusi selanjutnya yang mengungkapkan refleksinya, mengambil sudut pandang kebangkitan dari dunia pendidikan yang kini ia geluti.

“Saya seorang guru matematika. Tidak semua siswa saya memahami apa yang saya ajarkan. Kalau saya, siswa yang tidak memahami pelajaran ya saya suruh berhenti belajar. Buat apa, wong memang tidak bisa. Saya suruh dia untuk belajar yang dia bisa saja,” ungkapnya.

Martinus Basuki Sugita. Foto: Ahmad Rosyidi

Lebih lanjut dirinya menjelaskan, pendidikan saat ini menuntut siswa harus menguasai semua mata pelajaran. Padahal, setiap siswa memiliki bakat dan kemampuannya masing-masing.

“Tidak mungkin seorang siswa ahli di semua bidang. Pintar satu bidang sudah cukup sebagai bekal untuk hidup. Hidup itu sederhana, yang penting bersyukur,” tuturnya.

Penampilan Muna-Muni Band dalam acara refleksi Hari Kebangkitan Nasional. Foto: Forum Kalen

Acara diskusi dan refleksi kemudian dihentikan sejenak. Personel Muna-Muni Band maju ke atas panggung, dan kembali menghibur peserta diskusi yang hadir. Beberapa lagu dengan berbagai genre telah dituntaskan, vokalis Muna-Muni kemudian bertanya kepada peserta diskusi, adakah yang mau meminta lagu?

Fajar Kartika kemudian menyahut dengan permintaan lagu berjudul “One of Us“. “Maaf, itu lagu siapa ya pak?” tanya vokalis kepada Fajar, yang kemudian memantik tawa peserta yang hadir.

“Maaf, kami tidak jadi menawarkan permintaan lagu. Biar kami lanjutkan lagu selanjutkan sesuai referensi yang kami miliki,” tutur Tegar, vokalis Muna-Muni sembari tertawa.

Fajar Kartika. Foto: Forum Kalen

Usai break, giliran Fajar Kartika maju ke depan untuk memberikan refleksinya. Menyinggung tentang lagu “One of Us” yang dia minta untuk dibawakan Muna-Muni sebelumnya, dia menjelaskan, lagu tersebut milik Joan Osborne. Lagu tersebut dianggap mewakili puisi-puisi TS Eliot, seorang sastrawan yang dinobatkan sebagai bapak kebangkitan sastra Amerika.

“TS Eliot sangat dikenal pada 1920-an. Beliau mampu mengangkat kesusastraan Amerika di dunia, karena puisi-puisinya dianggap menggunakan akrobat kata-kata. Puisi-puisi yang dibuat menggunakan rima, yang sebelumnya tidak digunakan oleh sastrawan Amerika,” jelasnya.

Lebih lanjut Fajar menjelaskan, TS Eliot adalah penganut formalisme Rusia, yakni faham dalam sastra yang percaya bahwa karya sastra harus digunakan untuk tujuan tertentu, bukan sastra untuk sastra. Oleh TS Eliot, karya-karya puisinya digunakan untuk menggugah kesadaran terhadap keadilan sosial dan transenden atau keilahian. Itu terlihat dalam kumpulan puisi Waste Land.

“Nah, ini bisa kita jadikan contoh bagaimana TS Eliot melakukan pembaruan di bidang sastra di Amerika yang kemudian mengangkat sastra Amerika sehingga dikenal dunia. Kita bisa melakukan pembaruan di bidang kita masing-masing,” tuturnya.

Edy Supratno. Foto: Forum Kalen

Setelah itu gilira Edy Supratno yang memberikan refleksinya. Dia memulai dengan cerita awal dibentuknya Forum Kalen sekitar 12 tahun lalu. Pembentukan Forum Kalen digagas oleh Djoko Herryanto, yang menginginkan ada forum diskusi yang mengkaji tentang banyak keilmuan, terutama filsafat.

“Saya tergelitik dengan logo Forum Kalen, ada ikan tapi makan duren. Ini logo aneh, tapi saya suka, ada pendekatan baru yang tidak formalistik. Anti-main stream ini mungkin bisa saya tiru untuk merubah logo kampus saya nanti,” ungkap Edy yang disambut gelak tawa peserta yang hadir.

Di Forum Kalen, Edy mengaku banyak yang telah dia dapat. Pendekatan anti-main stream yang diterapkan oleh Djoko Herryanto, membuat Forum Kalen menjadi ruang yang menyenangkan.

“Saya teringat kecil dulu, saya ini tidak pandai matematika. Guru saya bernama Pak Triono yang galaknya minta ampun. Kalau dia lewat sampig meja saya, sata pura-pura serius. Lalu beliau memukul kepala saya dan berkata ‘pura-pura serius’,” cerita Edy yang lagi-lagi memantik gelak tawa peserta diskusi.

Di momen Hari Kebangkitan ini, kata Edy, pendidikan harus dibuat menyenangkan, seperti yang ada di Forum Kalen. Meski awalnya tidak menguasai materi yang disampaikan, tapi dengan pendekatan yang menyenangkan siswa bisa merasa merdeka dengan sudut pandangnya masing-masing.

Editor: Suwoko

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler