
Penulis: Fika Hayatul Muafiroh
Mahasiswa Pendidikan Biologi UIN Walisongo
Sejak wabah virus Covid-19 melanda Indonesia pemerintah mewajibkan kepada seluruh lapisan masyarakat untuk tetap berada di rumah dan menjaga protokol kesehatan. Berbagai cara telah dilakukan pemerintah untuk menekan virus ini agar cepat berakhir, di antaranya mengkarantina masyarakat yang terjangkit. Karantina atau isolasi pernah dilakukan Nabi Muhammad SAW yang di tulis dalam sebuah hadis yang artinya:
“Jika kamu mendengar wabah di suatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi wabah di tempat kamu berada, maka jangan tinggalkan tempat itu”. (HR. BUKHARI)
Meski demikian, angka kasus Covid-19 kian hari justru terus bertambah. Sebagian masyarakat tak lagi peduli dan tak segan untuk melanggar protokol kesehatan. Tak jarang pula, gejolak permasalahan sosial dan ekonomi terjadi akibat lamanya masa pandemi ini berlangsung.
Dalam menghadapai situasi seperti yang terjadi sekarang, pemerintah mengupayakan berbagai cara agar masyarakat mampu bertahan dalam mengahadapi pandemi. Segala upaya telah pemerintah lakukan, di antaranya bantuan sosial tunai maupun nontunai, menggratiskan listrik bagi masyarkat pengguna 450 VA, dan potongan biaya bagi masyarakat pengguna daya listrik 900 VA.
Dalam kondisi yang seperti ini sikap moderasi agama harus ditanamkan kepada masyarakat agar tercipta sikap toleransi dan kerukunan. Sikap moderasi yang dapat ditanamkan di antaranya selalu bersabar dalam menghadapi Covid-19, saling tolong menolong sesama.
Sikap moderasi adalah sikap aktif dan memiliki nilai toleransi, kerukunan, dan saling percaya. Moderasi tidak hanya di tanamkan dalam wujud satu bidang saja, tetapi menjadikan panduan hidup masyarakat, negara, maupun bangsa.
Di masa pandemi ini, masyarakat beragama harus tetap berhati-hati dalam bertindak agar tidak mudah terhasut atau terprovokasi, karena hal itu akan menimbulkan kerugian bagi diri sendiri dan masyarakat yang lain. Dalam moderasi beragama, agama harus memberikan rasa adil agar setiap masalah dapat segera menemukan jalan keluarnya. Agama harus dijadikan jalan untuk menentukan kesejahteraan dan kedamaian.
Islam merupakan agama yang toleran dan tidak mempersulit umatnya. Islam merupakan agama damai, dan sangat mengutamakan jalan tengah dalam berbagai hal dan kondisi. Seperti firman Allah yang terkandung di dalam QS. Al-Baqarah: 143 yang artinya:
“Dan yang demikian ini kami telah menjadikan kalian umat islam sebgai umat pertengahan agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul Muhammad menjadi saksi atas perbuatan kalian.”
Pandemi ini memang sungguh terasa dampaknya, tapi semboyan Bhineka Tunggal Ika seharusnya bisa menyatukan. Semboyan yang memiliki makna berbeda-beda tetapi tetap satu, bisa menjadi kekuatan untuk bersama-sama mengakhiri pandemi.
Meski terjadi pro dan kontra, masyarakat harus tetap menaati segala aturan protokol kesehatan yang telah pemerintah tetapkan, antara lain menjaga jarak, mencuci tangan, dan memakai masker. Dengan cara inilah kita bisa saling menjaga satu sama lain. Semoga pandemi ini segera berlalu sehingga kita dapat beraktivitas normal seperti sebelumnya.





