SEPUTARKUDUS.COM, UMK – Sejumlah orang terlihat duduk atas panggung Forum Apresiasi Seni Dan Budaya (Fasbuk), di Lapangan Basket Universitas Muria Kudus, Sabtu (20/5/2017) malam. Mereka sedang mendiskusikan tentang maraknya berita bohong, atau hoax yang saat ini marak beredar di media daring. Saat sesi tanya jawab dibuka, seorang pria berkaus merah mengagkat tangan untuk bertanya. Dia yakni Junaidi Salat (22).

Junaidi begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com. Dia mengaku menghadiri acara tersebut karena mendapat informasi dari temannya yang ikut tampil dalam acara bertajuk “Hoax Hoex Hoam” itu. Dia juga merasa tertarik dengan tema yang diangkat.
Baca juga: Elly Persembahkan Puisi untuk Para Politikus yang Suka Umbar Janji Tapi Banyak Menipu
“Saya datang bersama teman saya dari Demak. Karena mendapat informasi dari teman yang kuliah di STAIN Kudus, jadi saya ke sini. Tetapi yang membuat saya tertarik datang itu nama kegiatannya, Forum Apresiasi Sastra dan Budaya Kudus (Fasbuk). Ini pertama kali saya menghadiri kegiatan ini,” ungkap warga Gunungwungkal, Pati itu, usai acara.
Dia mengungkapkan, kegiatan dengan tema besar sekala nasional tersebut, sangat disayangkan karena hanya menyentuh kalangan mahasiswa. Akan lebih bermanfaat jika bisa menyentuh elemen masyarakat keseluruhan. Termasuk masyarakat perdesaan dan orang awam agar tidak mudah percaya dengan berita dan informasi hoax.
“Menurut saya akan lebih bermanfaat kalau bisa melibatkan lebih banyak kalangan. Tidak hanya mahasiswa, tetapi juga masyarakat umum termasuk warga Desa. Jadi bisa mengundang organisasi desa untuk dilibatkan. Tetapi secara keseluruhan saya mengapresiasi kegiatan ini,” jelas mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu.
Menurut Junaidi, berita hoax adalah persoalan yang kompleks. Orang yang bekerja di media akan mengikuti aturan perusahaan, dan perusahaan media dimiliki oleh praktisi politik. Selain itu selera masyarakat juga berpengaruh, karena berita hoax mendapat respon dan lebih diminati masyarakat.
Dalam acara tersebut, Fasbuk menghadirkan sejumlah narasumber untuk menjadi pemantik dalam diskusi tentang maraknya berita hoax. Mereka di antaranya Akrom Hazami, redaktur di Muria News Com, Mohammad Noor Ahsin, dosen UMK).
Akrom Hazami, dalam diskusi itu mengatakan, seorang jurnalis memiliki aturan dan kode etik sesuai Undang-Undang Dasar 1945. Sebagai seorang jurnalis, menurutnya, untuk melawan berita-berita hoax dengan cara mengikuti aturan yang ada.
“Kami yang memiliki profesi sebagai jurnalis, tentu berbeda dengan pekerjaan yang lain. Karena profesi memiliki aturan yang jelas,” ungkapnya saat diskusi.
Sementara itu Noor Ahsin, mengatakan, masyarakat harus lebih selektif dengan berita yang beredar. Karena dengan maraknya media hoax, berita bohong, bisa memecah belah keutuhan Bangsa.
“Itu bisa saja menjadi bagian strategi politik adu domba, untuk memecah belah dan membuat permusuhan suatu bangsa. Jadi para pegiat seni juga bisa melakukan kritik melalui satra, melalui puisi atau kesenian lainya” jelasnya.
Dia menambahkan, seharusnya Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) juga melakukan sosialisasi. Tidak hanya sosialisasi antinarkoba, antiberita hoax juga perlu disuarakan. “Bisa dengan cara masuk ke kampus-kampus. Saat ada masa orientasi misalnya, meminta waktu untuk memberikan pendidikan anti-hoax,” ungkapnya saat diskusi.

