BETANEWS.ID, JEPARA – Desa Troso yang berada di Kecamatan Pecangaan, Kabupaten Jepara dikenal sebagai daerah sentra penghasil kain tenun. Namun siapa sangka, jika desa tersebut juga memiliki potensi produk kerajinan lain berupa anyaman bambu dan mendapat julukan sebagai Kampung Keranjang.
Salah satunya wilayah yang mendapat julukan tersebut berada di Rt 3, Rw 4, Desa Troso, di mana mayoritas masyarakatnya berprofesi sebagai perajin anyaman bambu.
Baca Juga: Nasib Tragis Ekstrakurikuler Ukir di Kota Ukir, Susah Cari Tenaga Ahli
Chambali (70) salah satu perajin anyaman bercerita bahwa masyarakat Desa Troso dulunya banyak yang menjadi perajin anyaman seperti keranjang, tampah, caping, dunak, senik (tempat nasi) yang terbuat dari bambu.
“Dulu banyak, warga yang di depan rumahnya pada menganyam, sekitar tahun 60 an itu sudah ada yang menganyam bambu di desa sini,” katanya pada Betanews.id, Sabtu (22/7/2023).
Ia kemudian bercerita bahwa dulunya peminat anyaman bambu terutama keranjang bambu sangat banyak. Bahkan ada juga yang berasal dari Daerah Lasem, Kabupaten Rembang. Namun, karena gempuran keranjang dari bahan plastik maupun kayu, keranjang bambu sudah jarang diminati.
Karena sudah berusia senja, Chambali memilih untuk tetap bertahan menjadi pengrajin anyaman tetapi beralih menganyam engkrak atau pengki.
“Kalau sekarang pedagang buah itu kan sudah mulai pake peti, jadi permintaan keranjang bambu juga mulai berkurang,” ujarnya.
Hal yang sama juga dilungkapkan oleh Karsinah (65), salah satu perajin anyaman bambu di daerah tersebut.
Ia memang masih tetap setia menganyam keranjang. Namun dulunya Karsinah juga memproduksi bentuk anyaman lain seperti dunak, kukusan nasi, maupun senik (tempat nasi).
“Ya sekarang yang masih lakunya cuma keranjang, terus kalau dunak itu bikinnya lebih lama, karena iratannya lebih halus, jadi ya sekarang cuma bikin keranjang,” ujarnya.
Baca Juga: Jalan Banyak Dilalui Kendaraan Tonase Berlebih, Jembatan Timbang Jepara Diharap Kembali Aktif
Karsinah bercerita bahwa ketrampilan menganyam tersebut sudah ia miliki sejak kecil. Berawal dari melihat orang tuanya dulu pada saat menganyam.
Meskipun sudah berusia senja, Karsinah juga tetap masih setia menjadi pengrajin anyaman bambu. “Daripada dolan cuma ngomong, mending nganyam masih bisa dapet hasil buat kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Editor: Haikal Rosyada

