31 C
Kudus
Selasa, Januari 27, 2026

Teater Tigakoma UMK Pentaskan LOS, Karya Putu Wijaya

SEPUTARKUDIS.COM, UMK – Riuh suara sorak-sorak dan tepuk tangan penonton terdengar usai pementaan LOS di Auditorium Universitas Muria Kudis (UMK). Pementasan yang ditutup dengan seorang pria duduk disetrum itu, merupakan pentas produksi Kelompok Kajian Teater Tigakoma FKIP UMK (Teater Tigakoma) yang ke-12. Ahmad Saiful Anam (28), sutradara pementasan tersebut, memilih LOS untuk dipentaskan karena keunikan ceritanya.

Pentas Teater Tiga Koma Naskah LOS 2017_4_8
Pentas Teater Tigakoma Naskah LOS di Auditorium UMK. Foto: Ahmad Rosyidi

Anam begitu dia akrab disapa, sudi berbagi cerita kepada Seputarkudus.com tentang naskah yang disutradarainya itu. Menurutnya, keunikan naskah LOS karya Putu Wijaya ada pada pemeran utama yang hanya tidur. Selain itu dia juga merasa ada pesan moral yang penting untuk disampaikan kepada generasi muda.

-Advertisement-

“Kami memilih naskah ini karena unik, pemeran utamanya Bandot hanya duduk saja mulai awal hingga akhir. Tetapi di sisi lain ada pesan yang menurut saya penting untuk disampaikan, tentang semangat dan perlawanan Bandot yang tidak pernah mati. Karena tubuh bisa mati, tetapi secuil idealisme tidak pernah mati,” terangnya usai acara, Rabu (5/4/2017) malam.

Anam juga menjelaskan, Bandot adalah orang yang menentang sistem, sehingga dia dihukum mati. Meski dieksekusi puluhan kali Bandot masih belum mati, dan detak jantungnya masih berdebar. “Keberanian dan idealisme Bandot ini yang perlu di miliki pemuda saat ini. Agar kita tidak menjadi generasi yang inlander dan mudah terkontaminasi budaya asing,” jelas anak kedua dari lima bersaudara itu.

Naskah LOS menjadi naskah ke-4 yang pernah Anam sutradarai. Dia merasa haru melihat apresiasi penonton dan kekompakan timnya yang ikut menyukseskan pementasan. Dia berharap pementasan selanjutnya di Magelang pada tanggal 15 April 2017 juga berjalan lancar.

“Tadi kami mulai pementasan pukul 20.00 WIB hingga pukul 21.30 WIB, setelah itu kami lanjutkan dengan diskusi. Penonton yang hadir mungkin sekitar kulang lebih 300 orang. Semoga di Magelang juga berjalan dengan lancar, dan saya ucapkan terimakasih untuk Djarum Foundation Bakti Budaya,” tambahnya.

Asa Jatmiko, pegiat teater di Kudus yang hadir dan ikut berdiskusi menjelaskan, banyak nilai dan makna dari setiap pementasan yang bisa untuk diambil. Dia juga mengajak seluruh teater berlomba-lomba berkarya untuk membawa teater di Kudus khususnya menjadi lebih baik. “Banyak nilai dan makna yang bisa kita ambil dari setiap pementasan. Syukur-syukur kita bisa mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari,” ungkap penggiat teater di Kudus itu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER