BETANEWS.ID, KUDUS – Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ahmad Luthfi angkat bicara terkait potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang mulai menghantui sejumlah perusahaan di Jawa Tengah. Kondisi tersebut dipicu melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang berdampak langsung pada dunia industri.
Salah satu kasus yang menjadi perhatian berada di Kabupaten Jepara. Informasi yang beredar menyebutkan ada perusahaan yang melakukan PHK terhadap ribuan pekerja akibat tekanan ekonomi dan biaya produksi.
Menanggapi kondisi itu, Luthfi mengatakan pemerintah provinsi telah menyiapkan langkah antisipasi melalui Dinas Tenaga Kerja. Pemerintah juga menggandeng berbagai pihak untuk menekan potensi bertambahnya jumlah pengangguran.
Menurutnya, pekerja yang terdampak PHK akan diarahkan agar tetap bisa terserap di perusahaan lain. Langkah tersebut dilakukan supaya masyarakat tetap memiliki kesempatan kerja meski terjadi perlambatan industri.
“Dinas Tenaga Kerja akan memainkan peran untuk mengefektifkan kembali masyarakat kita yang kena PHK agar bisa bekerja di perusahaan lain,” ujar Luthfi usai menghadiri kegiatan Rembug Pembangunan Jawa Tengah di Pendapa Kabupaten Kudus, Selasa (26/5/2026).
Baca juga : Jumlah PHK di Jepara Meningkat Drastis, Ini Pemicunya
Ia menjelaskan, pemerintah bersama satgas terkait juga telah melakukan pemantauan terhadap perusahaan yang berpotensi melakukan efisiensi tenaga kerja. Upaya itu dilakukan sebagai bentuk peringatan dini sebelum PHK benar-benar terjadi dalam jumlah besar.
Meski begitu, Luthfi mengaku kenaikan kurs dolar tidak terlalu memukul sektor industri di Jawa Tengah. Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah masih berada di angka 5,89 persen. Angka tersebut lebih tinggi daripada capaian nasional.
“Kami menargetkan pertumbuhan ekonomi di Jawa Tengah nanti di atas 8 persen. Kami optimistis target tersebut bisa tercapai,” bebernya.
Dia menuturkan, yang paling menunjang pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah hingga tercapai 5,89 persen adalah investasi, terutama sektor padat karya. Di antaranya tekstil, garmen, pakaian, alas kaki, serta industri lainnya.
“Industri padat karya ini memang mampu menggerakkan ekonomi daerah. Selain itu, juga mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar,” jelasnya.
Untuk memperkuat investasi, kata dia, sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah kini mulai menyiapkan kawasan industri baru. Beberapa daerah yang disebut antara lain Banyumas, Pati, Rembang, Sragen, hingga Demak.
“Pemerintah Jawa Tengah terbuka terhadap berbagai jenis investasi, baik penanaman modal dalam negeri maupun asing. Yang paling penting adalah investasi tersebut mampu membuka lapangan kerja dan menjaga stabilitas ekonomi daerah,” sebutnya.
Editor: Kholistiono

