BETANEWS.ID, JEPARA – Bagi pemain Tradisi Perang Obor di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, Kabupaten Jepara, percikan api yang mengenai kulit saat memainkan obor bukan menjadi persoalan.
Percikan api itu muncul ketika dua pemain saling memukul tubuh lawan menggunakan obor yang terbuat dari blarak (daun kelapa kering) dan klaras (daun pisang kering) yang diikat menjadi satu.
Pihak pemerintah desa telah menyiapkan racikan khusus yang berfungsi untuk mengobati apabila terjadi luka. Racikan tersebut terbuat dari minyak kelapa yang dicampur dengan kurang lebih 35 jenis bunga.
Salah satu pemain Tradisi Perang Obor, Agus Susanto (43), bercerita bahwa racikan minyak kelapa itu diproses selama satu tahun. Setelah pelaksanaan Tradisi Perang Obor, pihak desa biasanya langsung membuat racikan minyak untuk pelaksanaan tradisi tahun berikutnya.
“Kalau ada luka sudah ada obatnya, pakai minyak kelapa. Proses pembuatannya ini panjang, satu tahun prosesnya,” kata Agus saat ditemui usai pelaksanaan Tradisi Perang Obor pada Senin (25/5/2026) malam.
Agus sendiri sudah 34 tahun menjadi pemain Tradisi Perang Obor dan merupakan penerus generasi keempat di keluarganya. Ia pertama kali menjadi pemain pada tahun 1992.
Untuk menjadi pemain perang obor, Agus mengatakan tidak ada syarat khusus. Yang paling utama, pemain harus warga asli Desa Tegalsambi. Pemain perang obor biasanya diwariskan secara turun-temurun sehingga regenerasinya tidak terputus.
“Kalau syarat pemain tidak ada, yang penting warga asli dan turun-temurun,” sebut Agus.
Baca juga : Ribuan Warga Padati Perang Obor Tegalsambi Meski Hujan Mengguyur
Selama kurang lebih 34 tahun, Agus mengaku belum pernah mengalami luka serius akibat menjadi pemain. Menurut Agus, yang biasanya mengalami luka bakar justru penonton. Namun, luka tersebut bisa mereda setelah diolesi racikan minyak kelapa.
“Alhamdulillah belum pernah mengalami luka yang serius. Penonton malah biasanya. Tapi setelah dioles minyak kelapa, itu biasanya bisa cepat pulih, jadi adem, enggak panas lagi,” kata Agus.
Menurut Agus, para pemain jarang mengalami luka karena sudah memahami teknik saat memainkan obor. Mereka juga biasanya tidak melakukan persiapan khusus.
“Latihan khusus enggak ada, persiapannya ya ziarah ke makam leluhur,” ujar Agus.
Sementara itu, pemain lainnya, Ali Ridho (47), mengatakan dirinya sudah menjadi pemain perang obor sejak sekitar 15 tahun lalu. Ali juga tidak memiliki persiapan khusus.
“Awal-awal dulu enggak ada latihan, langsung main. Kendalanya paling kalau dulu minder sama senior, tapi kalau sekarang ya sudah enggak,” kata Ali.
Total terdapat 40 pemain yang terlibat dalam pelaksanaan Tradisi Perang Obor. Seluruhnya merupakan laki-laki. Mereka memainkan sekitar 400 obor selama kurang lebih satu jam di Perempatan Desa Tegalsambi.
Editor: Kholistiono

