BETANEWS.ID, PATI – Banjir melanda jalan alternatif Pati–Rembang tepatnya di Desa Glonggong, Kecamatan Jakenan, Kabupaten Pati. Luapan air menggenangi ruas jalan utama yang menjadi penghubung antarwilayah dan memicu lumpuhnya aktivitas warga.
Air menutup badan jalan sepanjang kurang lebih satu kilometer, dengan titik terparah berada di wilayah Desa Glonggong. Kondisi tersebut membuat kendaraan sulit melintas dan memaksa warga sekitar menghentikan aktivitas sehari-hari.
Menurut Rifi, salah seorang warga yang tinggal di pinggir jalan tersebut, banjir mulai datang pada Minggu (11/1/2026) kemarin sekitar pukul 11.30 WIB. Debit air terus meningkat seiring hujan deras yang mengguyur kawasan hulu.
Baca juga: Banjir Susulan Terjang Semampir, Ratusan Kolam Ikan Tak Terselamatkan
Ketinggian air di ruas jalan mencapai sekitar 50 sentimeter, sementara di permukiman warga bisa mencapai satu meter.
“Di permukiman ini 70 sentimeter sampai satu meter sampai masuk ke kampung, semua warga kena,” ujarnya.
Banjir terjadi akibat curah hujan yang tinggi sehingga debit air dari hulu membludak dan mengalir deras ke hilir, membanjiri jalan dan permukiman penduduk.
Tak hanya merendam rumah warga, banjir juga menghambat roda perekonomian. Di sepanjang jalan tersebut terdapat pasar tradisional, bengkel, serta deretan warung yang terpaksa tutup.
“Jualan di pasar, bengkel motor, toko pada tutup,” terangnya.
Salah satu pedagang yang terdampak adalah Rubinah, penjual mi ayam yang biasa mangkal di pinggir jalan. Ia mengaku harus menghentikan aktivitas berjualannya selama banjir berlangsung karena akses terputus. Ia tak bisa mendapatkan penghasilan akibat kondisi tersebut.
“Ndak bisa jualan karena banjir. Kalau ramai bisa habis 2 kilogram mie ayam, kalau sepi gak sampai 1 kilogram,” tuturnya.
Baca juga: Banjir Bandang Terjang Bulumanis Kidul Pati, Belasan Rumah Rusak Parah
Biasanya, Rubinah membuka warung mulai sore hingga malam hari, bahkan hingga dini hari karena lokasi tersebut berdekatan dengan pasar.
“Buka sore sampai malam, apalagi di sini pasar, jadinya jualan sampai fajar. Jualan mi, bakso, kopi, es,” sebutnya.
Namun kali ini, ia terpaksa menutup warungnya karena air juga merendam rumah dan tempat usahanya.
“Rumah kena banjir, depan rumah masuk ke latar sampai satu tekel. Ketinggian 20 sentimeter masuk, kalau warungnya kemasukan air 10 sentimeter,” pungkasnya.
Editor: Suwoko

