BETANEWS.ID, KUDUS – Atap ruang laboratorium SD 2 Purwosari, yang kini digunakan proses KBM sementara kondisinya memprihatinkan. Plafon di ruang tersebut terlihat berlubang hingga tiga titik. Bahkan siswa yang menempati ruang tersebut sempat terganggu, akibat atap bocor saat hujan.
Siswa yang ngungsi di ruang laboratorium itu merupakan siswa kelas 4 SD. Sebanyak 12 siswa harus berganti ruangan belajar karena ruang kelasnya mengalami kerusakan. Itu imbas dari robohnya atap ruang kelas 5 SD dan ruang kelas 6 SD sejak Februari 2025 lalu.
Baca Juga: Wabup Kudus Bellinda Raih Penghargaan Publikasi Sosmed di Ajang TMMD Nasional
Guru Kelas 4 SD 2 Purwosari, Nunuk Mariani menyampaikan, tiga lubangan plafon itu terjadi sejak sebulan terakhir. Menurutnya, proses KBM di ruang tersebut sempat terganggu karena air menetes ke bawah.
“Sampai meja kursi siswa kami pindahkan agar siswa tidak ketetesan air. Ketika hujan di saat malam hari, paginya sebelum proses belajar, saya pel dulu agar tidak membahayakan bagi siswa,” bebernya.
Ia menyampaikan, kejadian bocornya ruang saat proses KBM terjadi pekan lalu, tepatnya Rabu (10/9/2025). Siswa terpaksa diminta maju untuk menghindari hal tersebut.
“Saya minta anak-anak duduknya lebih maju ke depan. Meja dan kursi kami geser ke depan supaya siswa tidak kena bocoran air. Di bawah saya beri ember untuk menampung air,” ungkapnya.
Meski dengan keterbatasan itu, ia mengaku bangga kepada siswanya yang semangat dalam mengikuti pelajaran setiap harinya. Ia berharap, ada perbaikan segera di SD N 2 Purwosari. Sehingga siswanya dapat belajar lebih nyaman tanpa rasa was-was adanya kebocoran.
“Kondisi seperti ini pastinya tidak nyaman. Tetapi alhamdulillah anak-anak tetap bersemangat belajar. Mereka semuanya tetap full masuk ikut pelajaran di kelas,” terangnya.
Baca Juga: Ribuan Pencari Kerja Serbu Job Fair UMK 2025
Terpisah, Kepala Bidang Kabid Pendidikan Dasar pada Disdikpora Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho sudah mendengar kabar berlubangnya ruang laboratorium di sekolah tersebut. Ia mengimbau, agar pihak sekolah bisa lebih aktif memperbaiki kerusakan sekecil apapun.
“Kalau memang ada kerusakan, pihak sekolah harus bisa lebih aktif untuk mengganti genteng yang rusak. Karena perbaikan seperti itu bisa disiasati dengan dana Bos,” katanya.
Editor: Haikal Rosyada

