31 C
Kudus
Selasa, Februari 17, 2026

Swadaya Anggota, KDMP Padurenan Kudus Sukses Jalankan Usaha Ternak Puyuh Hingga Magot

BETANEWS.ID, KUDUS – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, terus berinovasi dalam mengembangkan usaha produktif berbasis swadaya masyarakat. Dengan modal yang dihimpun dari anggota, koperasi tersebut sudah menjalankan beberapa lini usaha seperti peternakan puyuh dan pengolahan magot dari sampah organik.

Wakil Ketua KDMP Desa Padurenan Bidang Usaha, Septian Alif Nugraha menyampaikan, bahwa permodalan koperasi sepenuhnya berasal dari kontribusi masyarakat, khususnya pemuda Ansor. Menurutnya, semangat menjalankan KDMP dimulai dari dana swadaya anggota untuk kesejahteraan masyarakat.

Baca Juga: Atap Rumah Warga Ambrol Akibat Hujan, Bupati Kudus Gerak Cepat dan Berikan Bantuan

-Advertisement-

“Setiap anggota menyetorkan simpanan pokok Rp100 ribu, simpanan wajib Rp10 ribu per bulan, serta simpanan sukarela. Bahkan, saat awal terbentuk, dari 23 anggota masing-masing Rp1 juta sebagai simpanan sukarela. Skema bagi hasilnya, 40 persen untuk pemodal dan 60 persen untuk pengelola,” jelasnya.

Saat ini KDMP Padurenan mengelola ternak 1.000 ekor puyuh. Dari hasil produksi telur, mereka mampu menjual sekitar 800 butir perhari dengan harga Rp350 per butir.

“Rata-rata hasilnya 80 persen produksi, sehingga per hari bisa menghasilkan Rp280 ribu. Setelah dikurangi biaya pakan Rp175 ribu, kami masih mendapat keuntungan bersih Rp105 ribu,” ujarnya.

Selain ternak puyuh, koperasi juga mengintegrasikan usaha pengolahan magot dari sampah organik. Magot ini tidak hanya membantu mengurai sampah, tetapi juga berpotensi sebagai pakan alternatif untuk peternakan maupun budidaya.

“Dari 50 kilo sampah organik, bisa hasilkan 10 kilo magot per minggu. Saat ini baru mampu mengolah 40 kilo per pekan, karena masih bertahap. Harga jual magot Rp6 ribu per kilogram, dan kami sudah panen empat kali,” ungkapnya.

Untuk bahan baku, KDMP Padurenan bekerja sama dengan 10 kepala keluarga (KK) yang bersedia melakukan pemilahan sampah organik dari rumah tangga. Secara bertahap pihaknya akan terus mensosialisasikan ke masyarakat agar sampah dipilah dari rumah.

Program itu sejalan dengan gagasan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus, terkait pengelolaan sampah dengan pilihan sampah dari rumah tangga. 

“Kami terus sosialisasi agar warga terbiasa memilah sampah. Harapan kami, produksi magot bisa meningkat hingga target 100 kilo per minggu,” katanya.

Septian menambahkan, program ini berjalan berkat swadaya dan kekompakan warga. Saat ini KDMP Padurenan sudah memiliki 55 anggota yang aktif bergabung.

“Alhamdulillah, usaha ini berjalan karena kontribusi warga. Kami berharap pemerintah bisa memberikan dukungan dan pendampingan, terutama dalam pengelolaan sampah. Karena potensi magot BSF sangat besar untuk pakan ternak,” tegasnya.

Baca Juga: Mahasiswa UIN Kudus Tewas Tersengat Listrik Jebakan Tikus, Bermula Ingin Foto di Sawah

Selain fokus pada pengolahan sampah dan peternakan, KDMP Padurenan juga telah menjalin kemitraan dengan Bulog untuk distribusi beras SPHP, minyak, gula, serta kebutuhan lainnya bagi masyarakat.

“Kami mulai merintis sejak 30 Juni lalu. Saat ini tempat usaha masih menumpang di tanah milik warga, tapi ke depan ada rencana sewa lahan agar lebih permanen. Fokus utama tetap di magot, karena sejalan dengan program Pemkab Kudus yang terus menggaungkan pengelolaan sampah,” imbuhnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER