BETANEWS.ID, KUDUS – Upaya pelestarian bahasa Jawa kembali digelorakan melalui Lomba Bahasa Jawa Muria yang digelar untuk pertama kalinya tahun ini. Acara ini menghadirkan peserta dari berbagai kabupaten di kawasan Muria, seperti Kudus, Pati, Jepara, dan Blora.
Grand Final Lomba Dialog Bahasa Jawa Dialek Muria tersebut diselenggarakan di Ballroom Hotel Griptha, Rabu (3/9/2024). Setidaknya peserta ada 34 grup dari perwakilan empat kabupaten itu.
Baca Juga: Sulistyowati Ditunjuk Jadi PLH PKPLH Kudus, Sambil Menunggu Proses Pemeriksaan Disiplin
Pamong Budaya Ahli Madya Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) X, Wikanto Harimurti mengatakan, lomba ini digagas karena semakin lama penutur bahasa Jawa, khususnya dengan dialek daerah, semakin berkurang. Untuk itu, saat ini ia mencoba untuk meningkatkan semangat berbahasa Jawa bagi generasi muda.
“Sudah agak terpinggirkan karena penuturnya semakin berkurang. Kami ingin mengangkat kembali agar jadi tren sekaligus menumbuhkan semangat berbahasa. Setiap daerah punya dialek dan cengkoknya masing-masing yang harus dilestarikan,” katanya.
Menurutnya, lomba ini juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal kekayaan bahasa Jawa di kawasan Muria yang memiliki ragam varian. Sebab menurutnya, masing-masing daerah memiliki dialek berbeda-beda, yang seharusnya menjadi fokus pelestarian.
“Bahasa Jawa di Jepara, Kudus, Pati, dan Blora punya ciri khas masing-masing. Ini menjadi wacana sekaligus warna bagi anak-anak muda. Di mana ini juga memberikan pengetahuan mereka kalau dialek setiap daerah berbeda,” ungkapnya.
Tahun ini, lomba berfokus pada bahasa. Namun Wikanto menambahkan, tahun depan kemungkinan besar akan dikembangkan ke tema lain seperti mainan anak atau dikonsep kuliner tradisional.
“Target awalnya 40 grup, setiap grup terdiri dari dua orang. Namun yang ikut ada 34 grup dari empat kabupaten,” jelasnya.
Wikanto berharap, lomba ini menjadi awal lahirnya generasi penerus yang peduli pada bahasa dan budaya Jawa. Sehingga nantinya budaya Jawa akan tetap melekat pada pribadi anak dan terus disalurkan ke generasi berikutnya.
“Dengan usia yang masih muda, mereka bisa menggali tradisi, menampilkan kemampuan berbudaya, dan menjadi bibit unggul untuk pelestarian kebudayaan Jawa ke depan,” tuturnya.
Salah satu peserta dari Blora, siswa SMP 2 Cepu, menampilkan tarian pujangganong serta seni pedalangan. Dalang cilik bernama Prabu satriyo prabowo menceritakan asal-usul Kota Baya sambil memperagakan wayang.
Ia mengaku sudah menekuni dunia wayang sejak SD dengan belajar secara otodidak. Prestasinya pun tak sedikit, termasuk pernah mengikuti Festival Temu Dalang Cilik di Surakarta saat duduk di bangku SD.
“Kalau suka wayang sudah sejak kecil. Sekarang masih terus belajar dari guru di sanggar,” ucapnya.
Selain itu, ada juga karya sastra klasik Serat Wulangreh yang ditampilkan peserta. Karya dari Pakubuwana IV Surakarta ini berbentuk tembang macapat berisi pesan moral tentang kejujuran dan pentingnya menjaga budaya.
Baca Juga: Dinas PMD Kudus Sebut Bumdes Bakal Dapat 20 Persen Dana Desa
Farhan Adinata Chabibi (kelas VIII) dan Dahlia Putri Lestari (kelas VII) dari SMP 1 Jati Kudus menuturkan, mereka melakukan persiapan sekitar satu bulan dengan bimbingan guru bahasa Jawa untuk menampilkan Serat Wulangreh tersebut.
“Tidak ada kesulitan berarti, paling hanya pelafalan yang harus medok. Latihan setiap hari, ada bimbingan khusus dari guru bahasa Jawa sebagai persiapan mengikuti lomba ini,” jelasnya.
Editor: Haikal Rosyada

