MAF 2026 Usung Konsep Building World Class, Siswa Disiapkan Hadapi Tantangan Global

BETANEWS.ID, KUDUS – Sekolah Masehi Kudus kembali menggelar Masehi Annual Fair (MAF) 2026 dengan menghadirkan beragam karya dan kreativitas siswa dari jenjang PAUD hingga SMA. Tahun ini, kegiatan tersebut mengusung tema “Live the Light” sekaligus memperkenalkan program baru bertajuk “Building World Class”.

Ketua UBM Kudus, Kristian Hartono, mengatakan tema “Live the Light” menjadi bagian dari upaya sekolah untuk membentuk karakter peserta didik yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki nilai-nilai Kristiani.

“Jadi kami ingin anak-anak yang bersekolah di Sekolah Masehi dapat menghidupi karakter light. Harapannya mereka bisa menjawab tantangan dunia global ke depan dengan karakter-karakter sesuai dengan nilai Kristiani,” bebernya.

-Advertisement-

Menurutnya, pendidikan karakter tetap menjadi salah satu fokus utama di tengah perubahan zaman. Dalam penekanan tersebut, murid diharapkan menjadi terang, rendah hati, dapat dipercaya, dan gigih sebagai bekal siswa menghadapi berbagai tantangan di masa mendatang.

Selain penguatan karakter, Sekolah Masehi juga terus mengembangkan kualitas pendidikan. Salah satu terobosan yang diperkenalkan dalam MAF 2026 adalah program Building World Class.

Program tersebut diarahkan untuk membekali siswa dengan kemampuan bahasa asing. Kristian menyebut kemampuan berbahasa menjadi salah satu bekal penting bagi anak-anak untuk menghadapi lingkungan global yang semakin terbuka.

Baca juga : Sebulan, Mahasiswi UMKU Borong 3 Juara Nasional

“Di tahun ini MAF kita ada program baru yaitu Building World Class. Sekarang bahasa menjadi salah satu hal yang penting, sehingga kami ingin memperkenalkan anak-anak untuk dapat menggunakan bahasa-bahasa asing,” jelasnya.

Untuk program bilingual, bahasa Inggris menjadi salah satu bahasa yang ditekankan. Selain itu, siswa juga mendapatkan pembelajaran bahasa asing lainnya, seperti Mandarin.

Penguatan kemampuan tersebut mulai diperkenalkan sejak jenjang SD. Pada tahun ini, sekolah juga membuka pendaftaran peserta didik baru untuk jenjang SD tahun ajaran 2027/2028.

MAF 2026 tidak hanya menjadi panggung pertunjukan seni dan budaya. Berbagai hasil karya siswa dari masing-masing jenjang turut dipamerkan kepada pengunjung.

Salah satunya adalah karya ekstrakurikuler robotik siswa kelas 5 dan 6 SD Masehi. Para siswa membuat permainan berbasis robot yang mengandalkan instruksi lampu dengan warna berbeda.

Guru kelas 2 SD Masehi, Ika Lychia Anggraheni, menjelaskan permainan tersebut sebelumnya juga dipersiapkan untuk kegiatan di Djarum Foundation dalam program Computational Thinking.

“Kalau lampunya merah, mengikuti instruksi. Kalau biru nanti ada gerakan, sedangkan kalau hijau mulai,” jelasnya.

Pembuatan robot tersebut membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Dalam prosesnya, siswa tidak hanya belajar pemrograman, tetapi juga dituntut bekerja sama dan menyelesaikan berbagai persoalan teknis.

Menurut Ika, proses pembuatan robot menjadi sarana untuk melatih kegigihan siswa. Terlebih, karya tersebut dikerjakan secara berkelompok sehingga kemampuan bekerja sama juga ikut berkembang.

Selain robotik, siswa juga memamerkan berbagai proyek yang menggabungkan sejumlah mata pelajaran, di antaranya sains, matematika, dan seni.

Setiap kelas membuat satu proyek yang kemudian dipamerkan dalam kegiatan MAF. Beberapa karya bahkan dibuat menggunakan aplikasi desain sebelum dikembangkan menjadi bentuk buku maupun miniatur.

“Setiap kelas membuat satu produk,” ungkapnya.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho, mengapresiasi pelaksanaan MAF 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana lembaga pendidikan dapat memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas dan prestasi.

“Dinas sangat mengapresiasi ini. Kita bisa melihat prestasi sekolah yang sudah diperoleh. Ini sebuah insight untuk yang lain agar punya kegiatan-kegiatan serupa,” katanya.

Ia menilai pameran semacam MAF juga dapat menjadi wahana bagi sekolah untuk memperkenalkan inovasi pembelajaran sekaligus prestasi peserta didik kepada masyarakat.

Namun, Anggun menegaskan pengembangan kualitas pendidikan tidak boleh dipisahkan berdasarkan status sekolah.

“Intinya semua kegiatan ini adalah untuk anak-anak Kudus. Tidak ada anak sekolah negeri, tidak ada anak sekolah swasta. Yang ada adalah anak-anak Kudus yang sama-sama kita kembangkan kualitasnya,” tegasnya.

Di sisi lain, penguatan bahasa Inggris juga mulai diarahkan untuk diterapkan di sejumlah sekolah negeri. Anggun menyebut pembelajaran bahasa Inggris mulai dikembangkan, termasuk untuk siswa SD kelas 3 hingga kelas 6, meskipun penerapan secara nasional masih menunggu kebijakan dari kementerian.

“Ini akan menjadi model di SD, sehingga di SD-SD negeri pun kita akan mengembangkan pembelajaran bahasa Inggris,” ujarnya.

Ia menambahkan, pengembangan kemampuan bahasa di sekolah dapat dilakukan melalui berbagai bentuk, termasuk ekstrakurikuler maupun kelas bilingual.

Editor: Kholistiono

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER