31 C
Kudus
Selasa, Februari 17, 2026

Alat Pendeteksi Air Karya Siswa SMPN 1 Kayen Sabet Emas di ISIF Bali

BETANEWS.ID, PATI –  SMP Negeri 1 Kayen, Kabupaten Pati berhasil meraih medali emas dalam International Science and Invention Fair (ISIF) 2025 di Bali pada 12-15 November 2025. Tim yang beranggotakan Faiq Fadlurahman Saleh, Madina Malikhatul Kahfi, Hana Farrah Alfiya itu mempresentasikan alat pendeteksi sumber air bernama Aquabi: Water Detector.

ISIF merupakan ajang tahunan yang mempertemukan para pelajar dari tingkat SD hingga perguruan tingggi. Tahun ini, ISIF diikuti 300 tim dari 24 negara seperti Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, Turki, Rumania, Turkmenistan, Belanda, hingga Amerika Serikat.

Baca Juga: DPRD Restui Tambahan Dana Rp90 Miliar untuk Pemkab Pati Lewat Skema Pinjaman Daerah

-Advertisement-

Ada beberapa kategori yang dilombakan yaitu Mathematics, Physics Energy and Engineering, Life Science, Technology, Enviroment, Social Science, dan Education. Dalam keikutsertaan untuk pertama kalinya ini, SMPN 1 Kayen meraih medali emas dalam kategori Physics, Energy, and Engineering.

Siswa SMPN 1 Kayen, Madina Malikhatul Kahfi mengatakan, proyek ini berawal dari kegelisahan soal sulitnya mencari mata air di Kecamatan Kayen. Setelah melalui riset, membaca literatur dan jurnal ilmiah dalam kurun waktu satu tahun, mereka kemudian menciptakan alat pendeteksi sumber air tersebut.

“Kita membuat alat ini dikarenakan di area kita, tentunya area Kayen dan khususnya area Desa Sumbersari cukup sulit mengebor untuk menemukan air di bawah tanah,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).

Menurut Madina, alat ini bisa mendeteksi keberadaan sumber air bawah tanah berdasarkan perubahan percepatan gaya gravitasi dengan kedalaman mencapai 100 meter. Tingkat akurasinya juga tidak main-main, yakni mencapai 96,09 persen atau rata-rata erornya hanya 3,91 persen dibandingkan pengukuran manual.

“Alat ini dapat membantu masyarakat menemukan lokasi sumber air dengan lebih akurat, mengurangi risiko gagal pengeboran, menekan biaya, dan mempercepat akses air bersih,” ucap siswa kelas IX itu.

Cara kerjanya, lanjut dia, Aquabi dibawa berjalan di area yang akan dilakukan pengeboran. Jika mendekati aliran air bawah tanah, kedua batang sensor mulai berputar, menunjukkan adanya sumber air.

“Peristiwa tersebut dapat kita jelaskan seperti ketika saat melewati sumber air di bawah tanah, alat ini beratnya bertambah, dan ketika  tidak melewati sumber air, maka berat alat ini adalah normal,” imbuhnya.

Menurut Madina, alat sederhana tanpa aliran listrik ini bisa dibuat dengan bahan-bahan yang mudah didapatkan, seperti pipa PVC, laher motor, boks plastik, kawat tembaga, timah, mur dan baut, antena radio, pipa aluminium, pemberat besi, dan solatip.

“Jika ditotal, anggaran pembuatan satu Aquabi cukup terjangkau, yakni sekitar Rp300 ribu,” ungkap Madina.

Guru Pembimbing Tim SMPN 1 Kayen, M Rauf, menambahkan, untuk kesulitan dalam pembuatan alat pendeteksi mata air ini adalah dalam proses riset. Pihaknya harus benar-benar membimbing para siswa agar penelitiannya sesuai dengan kajian ilmiah.

“Untuk kesulitannya karena ini anak-anak SMP, yaitu dalam menemukan literatur, jurnal, itu kita harus selalu membimbing dan mengarahkan agar penelitian ini benar-benar sesuai dengan kaidah penelitian yang benar,” katanya.

Setelah ini, pihaknya juga akan kembali mengembangkan alat tersebut agar bisa digunakan masyarakat. Pihaknya juga tidak menutup kemungkinan untuk memproduksinya secara massal.

“Ini sangat bagus karena alat ini bisa bekerja tanpa menggunakan listrik, jadi sangat baik untuk dikembangkan dan insyaAllah mudah dipakai. Sangat mungkin sekali diproduksi massal,” kata Rauf.

Prestasi ini pun diapresiasi Kepala SMPN 1 Kayen, Jumadi. Menurutnya, capaian ini sangat membanggakan karena bisa mengharumkan nama Kabupaten Pati di kancah Internasional.

“Untuk ke depan, akan kita kembangkan selalu untuk kegiatan ekstrakulikuler riset ini karena banyak anak-anak yang berpotensi,” ungkapnya.

Baca Juga: Stok Solar Menipis, Disdagperin Pati Ajukan Penambahan Kuota ke BPH Migas

Dengan prestasi ini, Jumadi berharap siswa lain terpacu semangatnya untuk terus belajar dan bisa mengikuti ajang-ajang lain setingkat nasional hingga internasional.

“Harapannya tidak hanya mandek di sini. Karena ini kan udah kelas IX, jadi untuk adek-adeknya kita akan kembangkan untuk mengikuti kegiatan ekstrakulikuler riset dan saat ada lomba akan kita ikut sertakan,” pungkasnya.

Editor: Haikal Rosyada

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

TERPOPULER