BETANEWS.ID,JEPARA– Dua orang siswa dari Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Jepara menciptakan alat untuk mendeteksi kebakaran pada kompor gas berbasis Internet of Things (Iot).
Alat itu bernama Stovix (Stove Internet) atau kompor internet Stovix yang diciptakan oleh Vreshita Rahmi Alfira PF (16) siswa kelas XI 5 dan M. Hasan Rabbani (16) siswa kelas XI 3.
M. Hasan Rabbani, warga Desa Kecapi, Kecamatan Tahunan itu bercerita ide tersebut muncul atas rasa keprihatinannya terhadap peristiwa kebakaran yang menghanguskan ratusan motor milik karyawan PT Hwaseung Indonesia (HWI) di Desa Gemulung, Kecamataan Pecangaan, Kabupaten Jepara pada Senin, (5/5/2025) lalu.
Baca juga : Berawal dari Tak Sengaja, Dimsum Receh Milik Supri Bisa Ludes Hanya Dalam Dua Jam Saja
Kebakaran yang terjadi di lokasi lahan parkir milik warga itu dipicu akibat ledakan kompor gas di salah satu warung yang kemudian merembet ke area parkiran motor dengan kerugian ditaksir mencapai Rp2,2 miliar.
Dari peristiwa itu, ia bersama rekannya dengan didampingi oleh guru pendamping melakukan riset untuk mencari solusi agar peristiwa serupa bisa dicegah.
“Dari peristiwa itu kita kemudian merancang ide, kenapa kok kompor sangat berbahaya sampai bisa terjadi kebakaran sebesar itu? kami terus meriset, alasan utamanya karena ditinggal pergi,” katanya pada Betanews,id pada Senin, (16/2/2026).
Hasan menjelaskan, alat itu terdiri dari dua dua komponen box yang saling terhubung melalui jaringan wireless berupa bluetooth.
Alat pertama yang berisi jaringan solenoid dan baterai dihubungkan pada regulator dan jaringan pipa gas. Kemudian alat kedua yang berisi berbagai macam komponen elektronik sebagai pengatur utama digantung berdekatan dengan posisi kompor.
Dua komponen alat itu memiliki tiga fungsi utama, yaitu untuk melihat keberadaan orang di sekitar lokasi melalui sensor, mematikan kompor dari jarak jauh, dan mendeteksi adanya api.
“Cara kerjanya itu dikontrol lewat aplikasi dan harus conncet dengan Wifi. Jadi misalnya ngidupin kompor terus lupa, itu bisa dimaatiin otomatis, bisa diatur juga waktunya. Dan misalnya ada sumber api yang terdeteksi menimbulkan bahaya, itu nanti alatnya akan bunyi,” jelasnya.
Inovasi alat tersebut berhasil membuat ia dan rekannya memperoleh juara 1 Jepara Innovation Award (JIA) Volume 2 yang diadakan oleh Universitas Nahdlatul Ulama (UNISNU) Jepara.
“Tapi masih ada beberapa evaluasi yang kemarin diberikan untuk pengembangan ke depan, yaitu ditambah sensor pendeteksi bau gas, boxnya diringkas, dan supaya bisa digunakan secara mekanik tanpa harus terhubungan dengan Wifi,” ungkapnya.
Baca juga : Program Satu OPD Satu Desa Dampingan Pemprov Jateng Tuai Apresiasi
Sementara itu, Muhammad Taufiq Muslih, Guru Mata Pelajaran (Mapel) Informatika yang menjadi guru pendamping mengatakan penciptaan alat itu merupakan pengembangan dari mapel yang menuntut siswa untuk berpikir kritis dan mampu menganalisa masalah, kemudian mencari solusinya.
“Di mapel itu kita ajari juga tentang sistem koding dan di salah satu fasenya itu ada pelajaran yang fokus pada Iot. Dari sanalah karya itu kemudian muncul,” kata Taufiq.
Ke depan, dengan evalusia yang sudah diberikan, ia bersama anak didiknya berencana untuk mengembangkan kembali alat itu untuk diikutkan dalam lomba selanjutnya. Yaitu ajang Kreativitas dan Inovasi (Krenova).
Editor: Kholistiono

