BETANEWS.ID, PATI – Kabupaten Pati kini telah memiliki Brigade Pangan, kelompok petani milenial yang dikelola Kementan untuk menggarap lahan-lahan tidur pasca program optimalisasi lahan di luar lahan sawah (non rawa).
Diana Kusumawati, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Pertanian (Dispertan) Kabupaten Pati mengatakan, Brigade Pangan Kabupaten Pati ini beranggotakan 15 petani milenial dari enam desa. Yakni, Desa Sidomulyo dan Desa Sembaturagung yang berada di Kecamatan Jakenan, serta Desa Blingijati, Desa Serutsadang, Desa Pekalongan, dan Desa Karangsumber yang berada di Kecamatan Winong.
Baca Juga: Ngaku Dikejar Kelompok Bersajam, Sejumlah Pemuda Panik Melarikan Diri ke Kantor Polisi
“Brigade Pangan di Pati baru terbentuk kemarin tanggal 17 November 2025 di BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Kecamatan Winong. Ini semua masih persiapan untuk programnya. Brigade Pangan di Pati anggotanya 15 petani milenial usia 18 hingga 39 tahun dari enam desa tersebut,” ujar Diana, Selasa (25/11/2025).
Menurutnya, saat ini Dispertan Kabupaten Pati melakukan pendampingan kepada Brigade Pangan dalam hal persiapan. Bimbingan teknis (Bimtek) berlangsung pada tanggal 24 hingga 26 November 2025 ini.
“Tanggal 24, 25, 26 kami mendapat bimtek langsung dari Polbangtan,” ungkapnya.
Disampaikannya bahwa setelah ada optimalisasi lahan, maka petani yang biasa tanam padi dua kali setahun, nantinya bisa menanam padi tiga kali setahun. Terobosan tersebut, diharapkan mampu menghadirkan modernisasi pertanian, supaya generasi muda bisa terlibat dalam olah lahan secara terstruktur.
“Harapannya untuk meningkatkan swasembada, ketahanan pangan nasional melalui modernisasi pertanian. Biar generasi muda pada terlibat dan pengelolaan lahan yang lebih terstruktur pengelolaan lahan ke pertanian berkelanjutan,” ucapnya.
Sementara, menurut Ketua Brigade Pangan Kabupaten Pati, Nur Fuad, program tersebut membantu meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) di Bumi Mina Tani. Hal itu untuk mewujudkan ketahanan pangan.
“Brigade Pangan dalam rangka membantu pertanian yang semula IP hanya 1 (1 kali dalam setahun) menjadi 2, atau IP hanya 2 (2 kali dalam setahun) menjadi 3. Melalui ini dapat memaksimalkan IP,” jelasnya.
Ia menyebut, Brigade Pangan ini ada dengan ketentuan lahan pasca optimalisasi lahan. Di mana, lahan tersebut lahan merupakan tadah hujan yang tidak ada jalur irigasi.
“Di Pati, BP harus ada lahan pasca oplah. Lahan tersebut riil tadah hujan, tidak ada irigasi, dibantu pemerintah dibuatkan sumur. Kemarin baru dua, kita kerja dengan kelompok tani (poktan) yang dapat,” ucapnya.
Ia menyampaikan, saat ini ada 200 hektare lahan pasca optimalisasi. Rinciannya, lahan seluas 35 hektare di Desa Sidomulyo dan lahan seluas 50 hektare di Desa Sembaturagung, Kecamatan Jakenan. Lalu, lahan seluas 25 hektare di Desa Serutsadang, 25 hektare di Desa Pekalongan, 35 hektare di Desa Blingijati, dan 35 hektare di Desa Karangsumber, Kecamatan Winong.
Baca Juga: Tikus hingga Wereng Serang Sawah, Petani di Sugiharjo Pati Gigit Jari
Selain itu, Brigade Pangan memotivasi petani muda untuk bertani. Pasalnya, pemuda memiliki potensi yang mumpuni dalam membawa modernisasi pertanian, khususnya di Kabupaten Pati.
“Brigade Pangan dalam rangka di samping bantu pemerintah dalam ketahanan pangan, secara tidak langsung mendorong petani milenial kelola pertanian. Seharusnya ini sangat potensial bagi pemuda,” pungkasnya.
Editor: Haikal Rosyada

