BETANEWS.ID, KUDUS – Sepinya aktivitas jual beli di sejumlah pasar tradisional dinilai memengaruhi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Kudus. Hingga Agustus 2026, realisasi PAD dari sektor pasar baru mencapai Rp7,509 miliar atau sekitar 45,58 persen dari target setahun.
Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Pasar Dinas Perdagangan (Disdag) Kudus, Agus Sumarsono, mengatakan target PAD sektor pasar tahun ini ditetapkan sebesar Rp16,378 miliar. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibandingkan target tahun sebelumnya yang berada di angka Rp16,278 miliar.
Meski capaian belum menyentuh separuh target, realisasi hingga Agustus 2026 sebenarnya menunjukkan peningkatan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kalau dibanding tahun 2025 lalu capaiannya lebih tinggi sekitar Rp300 juta. Tahun lalu capaian sampai Agustus itu sekitar Rp7,202 miliar,” bebernya belum lama ini.
Menurutnya, kondisi pasar yang belum ramai menjadi salah satu tantangan dalam mengejar target PAD. Aktivitas pembeli di sejumlah pasar dinilai belum seperti yang diharapkan.
“Kalau kita melihat pasar saat ini sepi, pembeli hanya beberapa saja. Nanti kalau sudah masuk siang malah lowong,” terangnya.
Persoalan lain yang turut memengaruhi penerimaan adalah masih adanya tunggakan atau piutang pedagang. Bahkan, tunggakan tersebut bukan persoalan baru karena sebagian tercatat berasal dari tahun-tahun sebelumnya.
“Jadi tunggakan atau piutang pedagang juga masih banyak, dan itu juga masuk dalam hitungan PAD. Tunggakan pasar itu juga sejak lama, dari tahun 2013,” jelasnya.
Disdag Kudus tetap berupaya mengoptimalkan penerimaan hingga akhir tahun. Salah satu perubahan dalam sistem pembayaran dilakukan dengan menggabungkan retribusi pelayanan pasar dan pembayarannya dilakukan setiap bulan.
Besaran retribusi sendiri berbeda-beda, menyesuaikan kelas masing-masing pasar.
Untuk pasar kelas utama seperti Pasar Kliwon, misalnya, tarif retribusi kios ditetapkan Rp650 per meter per hari. Sementara tarif untuk los sebesar Rp350 per meter per hari.
Sedangkan pasar kelas satu seperti Pasar Bitingan dan Pasar Baru memiliki tarif retribusi kios Rp550 per meter per hari dan los Rp300 per meter per hari.
Dari seluruh pasar yang dikelola, Pasar Kliwon menjadi salah satu penyumbang PAD terbesar. Hingga Agustus, penerimaan dari pasar tersebut mencapai sekitar Rp3 miliar dari target Rp5 miliar atau sekitar 54 persen.
“Untuk sementara ini, capaian tertinggi PAD ada di Pasar Kliwon, sekitar Rp3 miliar dari target Rp5 miliar atau 54 persen sendiri capaiannya. Semoga nanti bisa tercapai maksimal sampai akhir tahun,” terangnya.
Editor: Kholistiono

