Narasumber Moddie Alvianto Wicaksono mengawali pembicaraan dengan bercerita, ketika Agus Salim merokok saat menghadiri pertemuan ke Britania Raya. Pangeran Philip yang ikut menghirup asap rokok pun bertanya, asap apa ini kok harum. Agus Salim pun menjawab bahwa itu adalah kretek. Kretek yang menjadikan orang-orang Eropa menjajah negaranya.
Moddie mengatakan, kretek memang warisan budaya bangsa Indonesia. Namun, sayangnya usulan Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) untuk kretek belum disetujui Kementerian Penidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek).
Baca juga: Puja Doa Kretek Awali Rangkaian Perayaan Kretek
“Saya kira kretek sudah sepantasnya jadi WBTB Indonesia. Indonesia itu tidak melulu soal pakaian dan kuliner, tapi soal kretek juga. Sebab, kretek itu hanya ada di Indonesia,” ujar Moddie.
Sementara itu, Ketua Panitia Sarasehan Kretek, Asa Djatmiko mengatakan, sarasehan ini menjadi puncak dari serangkaian perayaan kretek yang digelar oleh Teater Djarum. Acara ini jadi momen penting, sebab stakeholder kretek di Kudus bisa duduk bersama. Mulai dari pemerintah, pelaku industri kretek, petani tembakau, sejarawan dan budayawan, berdiskusi dalam satu forum.
“Surprise-nya di Sarasehan Kretek ini adalah hadirnya keluarga penemu kretek yaitu cucu Haji Djamhari, serta keluarganya raja Kretek, M Nitisemito,” ujar Asa kepada Betanews.id.

