Edy Supratno bersama Dr. Sharifudin MD Shaarani, rektor USIM, (kiri) keturunan Mandailing, Sumut.

Perjumpaan dengan Dr. Zin harus berakhir karena selepas salat Jumat itu dia ada acara lain. Dr. Zin juga yang mengantarkan kami salat Jumat di masjid kampus. Saya sendiri sangat penasaran untuk salat jumat di sini. Menurut Syafiq, setiap khatib di Malaysia akan menyisipkan doa untuk raja. Karena USIM ada di Kerajaan Negeri Sembilan, maka Raja Negeri Sembilan dan keluarganya yang didoakan. Ternyata pernyataan tour guide ini benar adanya.

“Semoga nanti saya bisa dipertemukan dengan keluarga saya yang di Pati,” kata Dr. Zin sesaat sebelum berpisah.

Malam harinya, kami rombongan dari pimpinan PTKIS Kopertais X wilayah Jawa Tengah dijamu makan malam oleh pihak USIM sekaligus penandatangan letter of intent (LoI). Acaranya meriah dan cenderung resmi. Saat sambutan selamat datang, Rektor USIM Prof. Dato’ Dr. Sharifudin Md Shaarani menyatakan bahwa dia keturunan dari Mandailing, salah satu kabupaten di provinsi Sumatera Utara yang berbatasan dengan Sumatera Barat.

Saya jadi penasaran. Ketika duduk satu meja kesempatan ini tidak saya sia-siakan untuk bertanya lebih jauh.

“Apa marganya, Prof?” tanya saya.

- advertisement -

“Hasibuan,” jawabnya. “Tapi saya belum pernah pulang kampung,” jelasnya.

Dari tour guide saya jadi tahu bahwa di Kerajaan Negeri Sembilan berlaku sistem hukum matrilineal. Persis yang ada di Minangkabau.

Secara historis, jauh sebelum negara Indonesia dan Malaysia berdiri, antara orang Minangkabau dan Negeri Sembilan sudah terjalin hubungan yang intens, sehingga wajar jika system hukum dan kebudayaannya tidak jauh beda. Meskipun negaranya berbeda. (*)

4 KOMENTAR

  1. Sayang , sekarang ini seakan akan orang Malaysia tidak mengakui bahwa mereka berasal dari Jawa/ Sumatra dan pulau pulau lain.
    Justru seakan akan mereka ingin menghapus jejak asal muasal mereka di tingkat global

  2. Salam
    Namanya kan takdir oleh Allah subhanawataala. Dengan Kuasa Allah, sesaorang dilahirkan di tempat yang Allah tentukan. Kita menerimanya dengan redha dan syukr. Jika ada peluang dan kesempatan untuk mengubungkan silaturrahim kerana Allah, ianya adalah usaha yang baik. Terima Kasih kepada Pak Dr Edy di atas penulisannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini