Syafiq, tour guide (biru) warga Malaysia keturunan Medan, Sumut.

Namanya Muhammad Zin. Dia kelahiran 1959 di Benut, Pontian, Johor. Di tempat ini lebih dari 60 persen adalah perantau dari Jawa, termasuk bapak dan mbahnya. Merekalah yang membuka hutan-hutan di kawasan ini untuk diolah jadi areal pertanian. Peristiwa itu diperkirakan sekitar tahun 1940-an.

Bapaknya bernama Kandar dan mbahnya bernama Abdul Latief. Istri Abdul Latief bernama Kidah. Kandar sangat kesohor di lingkungan itu karena dikenal sebagai pendekar silat. Dia mampu memotong kayu-kayu besar di hutan. Kayu hasil tebangannya lalu dibuat rumah. Termasuk saat membuatkan rumah mertuanya, Haji Siradj.

Di lokasi inilah perantau-perantau dari Jawa ini menjadi petani. Di perantauan ini Kandar juga punya bapak angkat sehingga di belakang nama Kandar terkadang tertulis bin Abdul Latief atau bin Sarkawi.

Kandar menikah dengan orang Jawa juga, namanya Fatmah binti Haji Siradj. Mereka memiliki banyak anak: 1. Paenah, 2. Abdullah, 3. Suratmin, 4. (meninggal dunia), 5. Nur Aini, 6. Muhammad Said, 7. Muhammad Yusuf, 8. Muhammad Zaid, 9. Siti Masriah, 10. Muhammad Zin, dan 11. (meninggal dunia).

Haji Siradj juga datang bersama orang tuanya, Atuk Sarmi bin Sariyo.

- advertisement -

Meski hidup di keluarga petani, namun Muhammad Zin punya cita-cita lain. Dia ingin sekolah. Sayangnya semua itu terkendala biaya. Ibunya meninggal tahun 1968, bapaknya meninggal empat tahun kemudian. Bersyukur dia dibantu oleh kakak-kakaknya. Dia bisa kuliah di Pulau Penang pada 1979 dan lulus lima tahun kemudian.

Setelah menjadi sarjana dia bekerja di sebuah perusahaan. Dua tahun bekerja dia kemudian mendaftar beasiswa S2 ke Liverpool, Inggris. Dia diterima. Lulus S2 dia mendaftar S3 di kampus yang sama. Pulang dari Inggris, warga Malaysia keturunan Pati ini menyandang gelar doktor dan kelak menjadi orang penting di Malaysia.

“Tapi kula taksih saget ngomong Jowo,” katanya. Sebab, dari kecil sampai besar bahasa pengantar di keluarganya adalah bahasa Jawa. Hanya saja mereka tidak pernah tahu alamat keluarga nenek moyangnya di mana.

“Hanya Pati, begitu saja,” jelasnya.

4 KOMENTAR

  1. Sayang , sekarang ini seakan akan orang Malaysia tidak mengakui bahwa mereka berasal dari Jawa/ Sumatra dan pulau pulau lain.
    Justru seakan akan mereka ingin menghapus jejak asal muasal mereka di tingkat global

  2. Salam
    Namanya kan takdir oleh Allah subhanawataala. Dengan Kuasa Allah, sesaorang dilahirkan di tempat yang Allah tentukan. Kita menerimanya dengan redha dan syukr. Jika ada peluang dan kesempatan untuk mengubungkan silaturrahim kerana Allah, ianya adalah usaha yang baik. Terima Kasih kepada Pak Dr Edy di atas penulisannya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini