Meski demikian, orang tuanya tidak keberatan dan mengizinkan KHR Asnawi mempelajari ilmu agama. Tak hanya di Tulungagung, KHR Asnawi juga belajar di Mayong, Jepara. Di Semarang juga belajar dengan Kiai Soleh Darat.
“Setelah berpindah-pindah belajar itu, kemudian beliau naik haji dan bermukim di Mekah. Waktu remaja dan setelah haji itu beliau mengganti namanya menjadi Raden Haji Ilyas. Bahkan nama Raden Ilyas juga terkenal di Mekah. Di sana, KHR Asnawi kemudian berguru dengan KH Mahfudz Termas dan KH Sayyid Umar Satha,” ujar Gus Hafid.
Sebelum bermukim di Mekah, kata Gus Hafid, KHR Asnawi menikah dengan Nyai Mudasih, putri KH. Abdullah Faqih Langgardalem, Kudus, dan dikaruniai dua anak. Saat bermukim di Mekah, beliau menikai janda Syekh Nawawi Albantani, bernama Nyai Hamdanah. Dari pernikahan tersebut, Raden Asnawi dikaruniai tiga anak, antara lain Muhammad Zuhri, Azizah dan Alawiyah. Saat kembali ke tanah air, beliau menikah dengan Nyai Subandiyah.
Gus Hafid menambahkan, selain alim, KHR Asnawi juga sangat aktif di organisasi dan pendidikan. Kakek buyutnya itu tercatat pernah menjadi anggota Sarekat Islam (SI). Selain itu, keturunan ke-13 Sunan Kudus itu juga tercatat sebagai anggota Komite Hijaz, dan turut mendirikan Nahdlatul Ulama. Dalam bidang pendidikan, KHR Asnawi mendirikan sekolah Qudsiyyah dan pondok pesantren Raudlatut Tholibin.
Raden Asnawi wafat pada usia 98 tahun, tepatnya pada 25 Jumadilakhir 1378 Hijriah, bertepatan dengan 26 Desember 1959 Masehi. Raden Asnawi wafat meninggalkan 3 orang istri, 5 orang putera, 23 cucu dan 18 cicit.
Tim Lipsus 16: Ahmad Rosyidi (Reporter/Host), Rabu Sipan, Kaerul Umam (Reporter/Videografer), Suwoko (News Editor), Andi Sugiarto (Video Editor & Animator), Nauval Rizka Awwalayoga (Ilustrator), Lisa Maina Wulandari (Subtittle).






