“KHR Asnawi juga pernah bertemu dengan Mbah Asnawi sepuh. Masa kecil KHR Asnawi memang nakal, hingga Mbah Asnawi sepuh memberinya sabda. Dan benar, KHR Asnawi bisa menjadi kiai yang alim, tidak setengah-setengah,” ungkapnya.

Menurut Gus Hafid, setelah dewasa KHR Asnawi sangat mengidolakan kakek buyutnya, yakni Mbah Asnawi sepuh. Bahkan, saking mengidolakan kakek buyutnya itu, KHR Asnawi yang terlahir dengan nama Raden Ahmad Syamsi, merubah namanya menjadi KHR Asnawi, meniru nama kakek buyutnya.
Mbah Asnawi sepuh, Kakek Buyut beliau, adalah keturunan ulama besar dari Kajen, yakni Syekh Mutamakin. Dan, nasabnya bersambung hingga ke Syekh Ja’far Shodiq (Sunan Kudus).
“Selain itu, Mbah Asnawi sepuh juga mempunyai putra yang bernama Soleh, ini nanti di antaranya yang menurunkan ke keluarga Cirebon, KH Said Aqil Siradj, kiai Sahal Mahfud dan Gus Baha,” terangnya.
Hafid melanjutkan penjelasannya, KHR Asnawi terlahir dari pasangan Haji Abdullah Husnin dan Raden Sarbinah. Oleh kedua orangtuanya,dia diberi nama Raden Ahmad Syamsi. Dia lahir pada tahun 1861, di Desa Demaran, Kota, Kudus. Ketika remaja, KHR Asnawi diajari berdagang oleh ayahnya di daerah Tulungagung, Jawa Timur. Namun, kecintaannya terhadap ilmu, membuat KHR Asnawi malah lebih sering di pondok pesantren belajar mengaji, ketimbang berdagang.






