“Seperti di Dukuh Pasinggahan, sedekah bumi selalu digelar setiap Kamis Kliwon. Sementara di Dukuh Popoh bebas, biasanya kita mencari hari libur seperi hari Minggu, agar warga yang bekerja maupun sekolah bisa ikut acaranya,” jelas Ketua BPD Desa Sugihrejo itu.

Ia menambahkan, kegiatan Sedekah Bumi di Desa Sugihrejo biasanya dimulai dengan doa bersama sebelum digelar acara kesenian. Suhartono menegaskan bahwa tidak ada pertunjukan seni yang wajib di Dukuh Popoh.

“Karena dulu saat saya masih kecil cuma doa bersama saja. Kemudian seiring berjalannya waktu mulai ada hiburan. Sedekah bumi itu dari filosofi budaya Jawa, tasyukuran, agar bumi yang kita tempati ini nyaman tentram, kalau digunakan untuk cocok tanam bisa subur dan hasilnya melimpah,” tambahnya.

Banner Ads

Terkait anggaran, Suhartono menjelaskan, setiap dukuh memiliki cara iuran masing-masing. Di Dukuh Popoh setiap rumah iyuran Rp 90 ribu. Selain itu, jika ada orang luar dukuh yang memiliki tanah di Dukuh Popoh juga akan dikenakan iuran.

“Kalau orang luar yang memiliki tanah di popoh dikenakan iuran perbau tanah sebesar Rp 150 ribu. Sedangkan pengusaha dari luar daerah yang berdomisili di Popoh dikenakan iuran Rp 300 ribu. Di Popoh ada 310 rumah dengan jumlah KK 350,” jelasnya.


Tim Lipsus 15: Rabu Sipan (Reporter/Host), Ahmad Rosyidi, Kaerul Umam (Reporter/Videografer), Suwoko (News Editor), Andi Sugiarto (Video Editor), Nauval Rizka Awwalayoga (Animator), Rifal Budi Yuliano (Ilustrator), Lisa Maina Wulandari (Translator).

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini