Menurut Taswilan, cerita yang sulit yakni cerita-cerita dari timur tengah, contohnya lakon Umar Moyo Umar Madi. Dia mengaku kurang memahami secara detail kostum dan ceritanya.

“Terutama kostumnya, pasti kan berbeda. Kostum biasanya pemain punya sendiri, meski ada juga yang disediakan dari pihak Siswo Budoyo,” terang warga Dukuh Donglo, Desa Guyangan, Winong, Pati itu.

Urutan Pementasan Ketoprak

Pentas ketoprak Siswo Budoyo. Foto: Kaerul Umam

Selain terkait cerita, Taswilan juga menjelaskan teknis pementasan ketoprak. Pementasan dimulai dengan dimainkannya gamelan, sebelum para penari Gambyong atau Srimpi naik ke atas panggung. Setelah tarian Gambyong, ada siaran untuk menyebutkan para pemain pemeran yang nanti akan mementaskan cerita.

Banner Ads

“Setelah itu ada adegan untuk awal cerita, baru setelahnya segmen perang, ini yang banyak ditunggu penonton. Setelah itu ada adegan taman sari, dan kemudian munculnya lawak atau dagelan,” jelas Taswilan yang sudah bergabung dengan Siswo Budoyo sejak puluhan tahun lalu itu.

Kepada Tim Lipsus Beta News, Taswilan juga menjelaskan peran para pemain dan kru. Di Siswo Budoyo ada 85 orang yang terlibat dalam pementasan. Mereka antara lain para pemain yang pentas di atas panggung, nayaga penabuh gamelan, pemegang keprak, kru panggung, tukang lampu, tukang geber, dan lainnya.

“Ada juga yang bertugas membunyikan petasan. Ini ada orangnya khusus. Ketoprak Pati itu memang ada petasannya, untuk menambah adegan jadi lebih greget. Kalau tidak ada petasan, pasti akan ditanyakan,” tuturnya.

Para pemain Siswo Budoyo, katanya, datang dari berbagai daerah; ada dari Pati, Rembang, Purwodadi dan Surabaya. Mereka mendapat honor sesuai kemampuan dan jam terbang. Untuk generasi pemain ketoprak dari Pati lebih sedikit jumlahnya. Para pemain kebanyakan dari Rembang, Blora, dan Purwodadi.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini