Ilustrasi Tol Semarang Demak seksi 1. Grafis: Manarul Hidayat

Dia menjelaskan, ada dua faktor yang menjadi persoalan terjadinya banjir rob di kawasan industri Terboyo hingga Sayung. Faktor pertama, yakni terjadinya peningkatan muka air laut akibat pemanasan global. Faktor yang kedua, yakni terjadinya land subsidance atau penurunan muka tanah di dua kawasan tersebut.

Menurut Agus, selama ini kawasan industri Terboyo dan sayung dan terendam rob ditanggulangi dengan meninggikan permukaan tanah menggunakan tanah urugan. Tak hanya warga yang memiliki permukiman di sekitar kawasan industri, jalan pantura di kawasan tersebut juga terus ditinggikan untuk menghindari genangan rob.

Peninggian struktur muka tanah ini, menurut Agus, bukan tanpa risiko. Peninggian yang terus dilakukan bisa mengakibatkan sanitasi dan saluran air yang bermuara ke sungai hingga ke laut bisa tersumbat dan tidak berfungsi.

Banner Ads

“Akibatnya genangan air rob tidak akan bisa dialirkan kemana-mana dan akan terus menggenang di permukaan yang lebih rendah. Jika proses peninggian muka tanah ini terus dilakukan, kolam retensi yang akan dibuat di Tol Semarang-Demak Seksi dua tidak akan berfungsi,” tuturnya.

Pembangunan tol Semarang-Demak seksi 1 baru dimulai pada awal 2022 ini, meski seksi 2 telah dimulai setahun sebelumnya pada awal 2021. Berdasarkan data dari Kementrian PUPR, pembangunan jalan tol Semang-Demak seksi 1 sepanjang 10,39 kilometer ini akan terhubung dengan jalur tol existing Semarang A-B-C di Kaligawe.

Jalan tol ini didesain membelah lautan yang sekaligus akan menjadi tembok laut, dan berakhir di Sayung. Proyek ini akan dibangun di atas 252 bidang tanah seluas 383,37 Ha. Seksi 1 Tol Semarang Demak ini akan menelan anggaran sebesar Rp 9,6 triliun.

Tinggalkan Balasan