“Misalnya, bagaimana caranya agar dipercepat penanaman pohon di wilayah Patiayam dan Muria. Sehingga sungai-sungai yang berhulu di Muria itu tidak serta-merta mengalirkan air, tetapi air mampu dipanen untuk dimasukan kebumi menjadi air tanah,” terang pria kelahiran Kudus itu.

Sama halnya juga wilayah Pegunungan Kendeng, Agus menilai perlu ada peluang-peluang konservasi untuk memasukan air hujan yang jatuh untuk masuk ke resapan Gunung Kendeng yang banyak mengandung kapur. Dengan demikian, air hujan mampu dipanen untuk memberikan kotribusi pengairan, sekaligus akan mengurangi banjir di wilayah dataran rendah.

“Memang kedepan harus berani melakukan restorasi pemulihan tanaman tegakan di wilayah hulu. Kemudian di wilayah hilir membangun infrastruktur yang ramah lingkungan. Kemudian memperdalam jaringan-jaringan drainase alam maupun drainase buatan sehingga akumulasi jumlah hujan yang jatuh mampu ditampung,” paparnya.

Banner Ads

Dia menambahkan, upaya tersebut dapat mengurangi intensitas jumlah air yang bisa menggenang. Karena sejarah geologi daerah itu dibentuk oleh banjir dan rawa yang menggenang cukup lama.


Tim Lipsus 12: Rabu Sipan (Reporter/Host), Ahmad Rosyidi, Kaerul Umam (Reporter/Videografer), Suwoko (Editor), Andi Sugiarto (Video Editor), Manarul Hidyat (Videografis), Lisa Maina Wulandari (Translator), Ludfi Karmila (Transkriptor) Dian Ari Wakhidi (Perlengkapan)

Tinggalkan Balasan