Bendung Wilalung. Foto: Kaerul Umam

Menurutnya, sejak masa pemerintahan Hindia Belanda hingga saat ini, sudah banyak upaya yang dilakukan untuk mengatasi banjir di dataran rendah tersebut. Beberapa daerah yang masuk dalam dataran rendah itu, mulai dari Sayung, Demak, Kudus hingga Pati. Pemerintah melalui Kementerian PUPR, Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali-Juana, melakukan normalisasi secara periodik.

“Pengurasan tersebut dilakukan pada seluruh saluran besar sepanjang Pantura, mulai Semarang, Demak, Kudus, Pati. Dikarenakan itu adalah akumulatif dari sedimen-sedimen yang masuk di situ. Itu menunjukan dataran rendah, dari Sayung Demak, Kudus, Juwana, Pati itu tingkat percepatan sedimentasinya tinggi,” bebernya.

Pada masa Pemerintahan Hindia Belanda, dibangun selokan di jalur Daendles, mulai Sayung hingga Karanganyar, Demak. Menurut Agus, selokan besar dengan lebar 10 meter itu digunakan untuk menampung sejumlah sedimen bersama air.

Banner Ads

“Sebelum masuk ke sana, seluruh sedimen ditampung oleh saluran itu. Seandainya dulu Belanda tidak membangun saluran sejajar dengan Jalan Daendles, bayangkan itu pasti percepatan pertumbuhan sedimen itu semakin tinggi, pasti Demak dan Kudus banjirnya akan lebih sering,” jelasnya.

Pembangunan selokan itu, kata Agus, merupakan upaya Belanda dalam mengatasi banjir di wilayah tersebut. Dan pemerintah saat ini melanjutkan untuk melakukan normalisasi. Selain itu, Pemerintah Hindia Belanda juga membuat bendungan, misalnya Bendung Wilalung di Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus.

“Pemerintah Indonesia juga membuat bendungan untuk menampung air dari Pegunungan Muria, ada Bendung Logung, kedepan akan ada Bendung Mranggen. Bendung-bendung itu berfungsi untuk mengurangi sedimen di wilayah dataran rendah,” tuturnya.

Agus menambahkan, upaya selanjutnya yang bisa dilakukan maysrakat di era modern adalah, mengembalikan daerah hulu agar mampu menghasilkan besarnya infiltrasi hujan yang jatuh ke tanah sebagai fungsi resapan. Caranya, yakni ikut serta melakukan penghijauan di wilayah hulu.

Tinggalkan Balasan