Tokoh Sedulur Sikep Sukolilo, Pati, Gunretno menyatakan, benjir yang melanda wilayah Kabupaten Pati dan Kabupaten Kudus, menyebabkan kerugian serius. Banjir yang terjadi setiap tahun tersebut merendam ribuan hektar lahan pertanian di kedua kabupaten.

Pria yang juga menjadi Ketua Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK) itu juga sudah pernah memberikan data titik-titik lokasi yang penting untuk segera ditangani. Akibat banjir di area persawahan tersebut, hasil survei lapangan JMPPK di tahun 2020 memperkirakan kerugian dari banjir rutinan itu mencapai Rp 45 miliar.

Dia merinci Desa-desa yang mengalami kerugian akibat banjir di lahan pertanian yaitu di Kabupaten Pati wilayah Kecamatan Sukolilo yaitu Desa Baleadi, Desa Wotan, Desa Baturejo, Desa Gadudero, dan Desa Kasiyan. Untuk Kecamatan Kayen yaitu Desa Srikaton, Desa Trimulyo, Desa Pasuruhan dan Desa Talun. Kecamatan Gabus, Desa Banjarsari, Desa Babalan, Desa Tanjang, Desa Kosekan, Desa Pantirejo, Desa Tlogoayu, Desa Karaban dan Desa Wuwur.

Banner Ads
Gunretno, Ketua JMPPK. Foto: Dok. Beta News

“Kecamatan Margorejo juga terdampak banjir di Desa Ngawen, Desa Jimbaran, dan Desa Jambean,” ungkapnya.

Diperkirakan kerugian gagal panen musim tanam pertama mencapai 5.000 hektar dengan hasil produksi 40.000 ton gabah dan kerugian biaya produksi sebesar Rp 45 miliar,” paparnya.

Gunretno

Banjir kini juga terjadi di Kabupaten Kudus. Jika dia hitung terdapat 12 desa yang terdampak. Di antaranya, Desa Gondoarum, Desa Sidomulyo, Desa Bulung Kulon, Desa Bulung Cangkring, Desa Sadang, Desa Jojo, Desa Kirig, Desa Jongso, Desa Payaman, Desa Karangrowo, Desa Wates, dan Desa Undaan.

Dia menilai, banjir yang melanda beberapa wilayah di Kabupaten Pati dan Kudus bukan diakibatkan karena curah hujan tinggi, melainkan disebabkan terjadinya alih fungsi lahan dan peruntukan lahan yang tidak sesuai. Dalam kerangka pembangunan, penanganan wilayah hulu dan hilir menurutnya harus seimbang.

“Di wilayah hulu, Pegunungan Kendeng dan Gunung Muria, kegiatan penambangan dan penggundulan hutan marak terjadi. Sehingga ketika curah hujan tinggi, aliran sungai pembuangan menjadi cepat mengalami sedimentasi,” jelasnya.

Baca juga:

Temuan survei lapangan JM-PPK dalam kegiatan susur sungai pada sabtu 12/12/2020 terdapat Sampah plastik, enceng gondok dan larutan tanah dari pegunungan semakin menjadikan daya tampung sungai tidak mencukupi.

“Akibatnya, air meluap menggenangi lahan pertanian yang sudah ada tanaman padi,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya beberapa waktu yang lalu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini