Ia menjelaskan, check dump merupakan pondasi melintang sungai yang posisinya di atas dan dibutuhkan beberapa titik. Sedangkan untuk lokasi tersebut merupakan area milik perhutani.

“Fungsinya untuk menahan arus datang ke cek dump pertama, dia tampung agar materialnya tidak turun. Limpas lagi ke cek dump kedua, materialnya gak ikut turun seperti itu. Jadi tertahan-tertahan seperti itu,” jelasnya.

Menurut Budi, banjir bandang juga menyebabkan banyak area lahan pertanian yang tergenang. Hal itu dikarenakan daerah pertanian lebih rendah dari daerah permukiman warga.

Banner Ads

“Area persawahan yang rawan terendam  sekitar 250 hektar, itu hampir setengah area pertanian kami. Di antara 4 kelompok tani, Penggung, Blalak, Modang, Waduk, itu kita semua kena imbas,” katanya.

Sementara Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus, Budi Waluyo mengatakan, bahwa pihaknya sudah berupaya untuk melakukan reboisasi di Pegunungan Kendeng. Dirinya juga mengeluhkan, karena sebagian besar wilayah Gunung Kendeng yang gundul itu bukan di wilayah Kudus.

“Kami sudah berusaha melakukan koordinasi dengan wilayah Pati maupun Purwodadi agar banjir bandang ini tidak terjadi setiap tahun. Kalau di wilayah Kudus itu sudah hijau, tapi kalau yang lain gundul kan tetap saja air melimpas ke Wonosoco,” tambahnya.


Tim Liputan: Ahmad Rosyidi, Dafi Yusuf, Rabu Sipan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini