31 C
Kudus
Senin, Oktober 25, 2021
spot_img
BerandaUMKMKampung Jangkrik di...

Kampung Jangkrik di Winong Pati Terancam Gulung Tikar Akibat Harga Terjun Bebas

BETANEWS.ID, PATI – Anjloknya harga jual komoditas jangkrik saat ini, menjadi pukulan telak bagi para peternak jangkrik di Desa Bumiharjo, Kecamatan Winong, Pati. Sebab, ini merupakan satu-satunya sumber mata pencaharian yang diharapkan dapat menopang kebutuhan hidup di kala pandemi seperti saat ini. Sedikitnya, ada sekitar 40 warga yang menggantungkan hidupnya dengan beternak jangkrik.

Salah satu peternak jangkrik Hanif Fatoni menuturkan, sejak sebulan terakhir harga jual jangkrik saat ini mengalami terjun bebas. Yang semula harga normal Rp 50 ribu per kilogramnya, kini anjlok dan berada di harga terendah, yaitu Rp 16 ribu per kilogramnya.

Baca juga : Kandang Jangkrik Buatan Ridho Diminati Pelanggan dari Berbagai Kota

- Ads Banner -

Padahal dalam beternak jangkrik diperlukan modal yang tak sedikit mulai dari bibit telur, pakan hingga perawatan. Ia merinci, untuk harga bibit telur saja masih terbilang tinggi, yakni Rp 200 ribu per kilogramnya. Jumlah tersebut, hanya bisa ditebar pada 2 kotak kandang saja.

“Ditambah lagi harga pakan voer yang tak kalah tinggi. Per sak atau per karung ukuran 50 kilo itu harganya Rp 400 ribu. Dan per sak itu hanya cukup untuk pakan satu kotak saja dalam sebulan panen,” ujarnya.

Padahal menurutnya, satu kotak maksimal hanya menghasilkan panen 50 sampai 60 kilogram saja. Ia mengaku, jika dikalkulasi, hasil panen tidak menutup modal yang sudah dikeluarkan. Belum lagi pengeluaran untuk pakan tambahan dan tenaga.

Pihaknya bersama para peternak lain sudah berupaya mencari pengepul hingga ke berbagai daerah, namun hasilnya nihil, yakni harga jual yang sama. Sehingga, menghadapi problema ini, ia dan sejumlah peternak lain memilih untuk vakum dari beternak jangkrik hingga harga mulai normal kembali.

Baca juga : Berawal Ketika Main ke Pasar, Ridho Dapat Ide untuk Produksi Kandang Jangkrik

Sementara itu, Eguh prasetyo yang juga peternak jangkrik di desa tersebut berharap ada solusi dari pemerintah atas permasalahan ini. Mengingat, hingga saat ini para peternak masih ketergantungan dengan para tengkulak dalam hal penjualan.

“Kami berharap bisa mandiri dalam menjual, bahkan mengolah hasil panen, sehingga dapat mendongkrak nilai jual. Tentu hal tersebut tidak terlepas dari campur tangan pemerintah,” pungkasnya.

Editor : Kholistiono

Lipsus 10 - Kisah Oei Tiong Ham, Sang Raja Gula Terkaya di Asia Tenggara dari Semarang

Tinggalkan Balasan

31,087FansSuka
15,023PengikutMengikuti
4,337PengikutMengikuti
62,220PelangganBerlangganan

Berita Terpopuler