“Tapi Oei Tiong Ham pada tahun 1914 sampai 1918 itu masih bisa bertahan. Kemudian di tahun 1918 itu juga ada yang namanya flu Spanyol, saya lihat data komoditas gula itu, mengalami penurunan ekspor. Namun tak berdampak lama, setahun berikutnya bisnisnya itu sudah naik lagi,” tutur Prof. Wasino saat ditemui di Unnes, beberapa waktu lalu.

Ia menjelaskan, tahun berikutnya setelah adanya flu Spanyol, kemudian komoditas gula tersebut menjadi nomor empat atau nomor lima, di bawah karet, sawit, dan lainnya. Hal tersebut yang membuat penurunan komoditas gula.

“Sebenarnya karet pada abad 19 belum mempunyai arti apa-apa. Kemudian pada tahun 1890 ada penemuan industri mobil, karet ini menjadi bahan penyempurnaan mobil yaitu ban. Dan ban ini memerlukan karet sebagai bahan utama dalam produksinya. Nah kemudian awal abad 20, sudah banyak mobil yang diekspor ke Hindia Belanda terutama Jawa dan Sumatera. sementara Oei Tiong Ham, tidak masuk ke dalam jaringan industri karet itu,” katanya.

Banner Ads
Rukardi, pegiat sejarah di Kota Semarang. Foto: Kaerul Umam

Ditemui terpisah, pegiat sejarah di Kota Semarang, Rukardi mengatakan, ketika Oei Tiong Ham meninggal mendadak pada tahun 1924 karena serangan jantung, perusahaan Oei Tiong Ham Concern tidak langsung mengalami kebangkrutan. Karena sebelumnya ia sudah menyiapkan beberapa anaknya untuk meneruskan kerajaan bisnisnya.

“Jadi Oei Tiong Ham ini memiliki 8 istri dan 26 anak, yang terdiri dari 13 anak laki-laki dan 13 anak perempuan. Kemudian dari sekian banyak istri dan anaknya itu, dia tidak serta merta membagi kekayaannya secara rata. Tapi dia lebih memilih anak-anaknya yang dianggap punya ketrampilan berbisnis,” kata Rukardi kepada Tim Liputan Khusus Beta News beberapa waktu.

Tinggalkan Balasan