Suatu saat, keinginan Oei Tjie Sien membeli tanah tersebut terwujud. Setelah tanah dibeli, masyarakat merasa dimudahkan saat hendak sembahyang. Selain itu, kondisi warga Tionghoa yang berdagang di kawsan tersebut sana lebih leluasa, karena tidak ada pajak lagi.

“Para pedagang jadi lebih lancar dan lebih ramai. Dulu kan ada pelabuhan di Mangkang, dan Kaligarang dulunya juga bisa dilewati kapal. Setelah dibebaskan pajak tentu jadi tambah perdagangan di sana,” jelas Ketua Yayasan Sam Poo Kong itu.

Selang satu tahun pembelian tanah di Simongan, pada tahun 1879 Oei Tjie Sien menulis sebuah prasasti. Dalam prasasti tersebut tertulis lokasi Sam Poo Kong sangat indah dan memiliki feng shui yang bagus.

Banner Ads

“Arti tulisan di prasasti ini, Sam Poo Kong letaknya sangat indah. Mempunyai unsur feng shui yang bagus sekali, karena di belakangnya ada pegunungan dan depannya lautan. Sam Poo Kong ini di rumah batu yang indah. Tanah di sini makmur dan orang bisa berdoa,” ungkapnya.

Menurutnya, Oei Tjie Sien memiliki jiwa sosial yang tinggi. Sehingga anak-anaknya juga terdidik seperti itu. Bahkan saat Oei Tiong Ham hendak pindah, tanah-tanah di Sam Poo Kong diserahkan kepada Yayasan Sam Poo Kong.

Saat ditemui di lokasi terpisah, pegiat sejarah di Semarang, Rukardi mengungkapkan, Oei Tjie Sien membeli tanah kawasan Simongan termasuk klenteng Sam Poo Kong. Tanah tersebut dibeli dari tuan tanah bernama Johanes.

Tinggalkan Balasan