Penulis: Meiliana

Dosen Nutrisi dan Pangan Fungsional, Unika Soegijapranata

Menurut hasil riset Tirto tahun 2017, generasi muda Indonesia suka belanja makan di luar rumah, terutama paket nasi makanan cepat saji. Selain itu, laporan survey Badan Pusat Statistik tahun 2020 menunjukkan hampir semua kalangan (99,23%) mengkonsumsi makanan dan minuman jadi. Makanan dan minuman jadi yang paling banyak dikonsumsi adalah gorengan, mi, roti manis, makanan ringan, dan minuman manis dalam kemasan.

Situasi kontras nampak pada konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia. Bila dibandingkan dengan anjuran Badan Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO), yaitu konsumsi sayur dan buah minimal 250 dan 150 gram per hari per orang, jumlah asupan sayur dan buah masyarakat Indonesia per Maret 2020 adalah 128,34 dan 88,56 gram per hari per kapita. Jumlah asupan tersebut mencapai hanya separuh (51,34% dan 59,04%) dari anjuran.

Padahal, kajian penelitian menunjukkan bahwa rendahnya asupan sayur dan buah berdampak pada status kesehatan yang buruk dan peningkatan risiko penyakit tidak menular. Risiko penyakit tidak menular pada masyarakat Indonesia semakin diperparah dengan tingginya asupan makanan dan minuman jadi yang merupakan sumber Gula, Garam, dan Lemak (GGL) yang perlu dibatasi asupan hariannya untuk mencegah kegemukan dan berbagai penyakit tidak menular.

Perbaikan perilaku makan makan masyarakat Indonesia seyogyanya digencarkan melalui edukasi gizi di kalangan produsen maupun konsumen. Selain itu, kebijakan pemerintah sebaiknya diputuskan berdasarkan analisis situasi dan perkembangan ilmu pengetahuan. Paling tidak, konsumsi sayur dan buah adalah salah satu dari sepuluh pesan Pedoman Gizi Seimbang tahun 2014 dan menjadi bagian dari fokus Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang dicanangkan oleh Pemerintah Republik Indonesia pada tahun 2017.

Masyarakat Indonesia sebagai konsumen dapat memperbaiki perilaku makan mulai dari tindakan-tindakan sederhana, seperti membawa bekal makan. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sarapan dapat mencegah kenaikan berat badan sehingga membawa bekal makanan dapat menjadi salah satu solusi untuk mencapai berat badan optimal. Bagi pekerja muda maupun pelajar yang kerap melewatkan sarapan, diperlukan strategi cerdas untuk bisa menyiapkan bekal makan yang sehat dan seimbang.

Pemerintah Indonesia menganjurkan asupan sayur dan buah sebesar minimal 250 gram dan 150 gram per hari, sedangkan asupan harian Gula, Garam, dan Lemak perlu dibatasi, yaitu gula pasir maksimal 50 gram, natrium 2000 mg, dan lemak total 67 gram.

Bekal makanan dapat dipersiapkan dengan jumlah sekitar 25-30% total kebutuhan energi per hari. Untuk mencapai asupan harian sayur dan buah sesuai anjuran, bekal makanan dapat diisi dengan 60-80 gram sayur (sekitar 1 porsi) dan dilengkapi dengan snack buah 40-50 gram buah (sekitar 1/2 porsi).

Menggunakan gelas ukur dengan kapasitas volume 250 ml, 1 porsi sayur (100 gram) sama dengan 1 gelas sayuran mentah non-daun atau 2 gelas sayuran mentah daun. Bila telah dimasak, 1 porsi sayur setara dengan 1 gelas sayur, 3 sendok sayur, atau 6 sendok makan. untuk membantu pengukuran porsi sayur.

Untuk buah, 1 porsi buah (100 gram) sama dengan 1 gelas buah potong, 1 buah pisang ambon ukuran sedang, atau 6 potong dadu pepaya. Bila buah diolah menjadi jus 100% buah atau tanpa gula, 1 gelas jus dengan volume 125-150 ml setara dengan 1 porsi buah.

Dengan menyiapkan bekal makan sendiri, dengan sadar kita mengontrol bahan pangan yang digunakan, metode pengolahannya, serta kebersihan makanan maupun alat makan. Niscaya, bekal makanan dapat berdampak baik terhadap kualitas asupan makan, asalkan disiapkan dengan benar.  

Tinggalkan Balasan